Jujur saja, aku benci sekali menulis cerita ini. Karena secara langsung aku kembali mengingat-ingat cerita yang sudah berlalu dan tidak perlu diungkit lagi. Tetapi, aku ingin berbagi bagaimana sekali lagi kami berhasil melewati rintangan yang makin lama makin kejam, betapa peribahasa "semakin tinggi pohon semakin kencang pula anginnya" sangat tergambar nyata di hubungan kami berdua, dan untuk mensyukuri apa yang telah aku alami. Dan tentu saja, untuk mengklarifikasi beberapa hal yang (mungkin) menurut beberapa orang, tidak seperti kejadian yang sebenarnya. Well, ini cerita dari sudut pandangku, salah satu dari pemeran drama ini.
Awan kelabu menyertai Desember-ku kala itu. Aku, yang sejak Desember 2011 sudah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah menyukai Desember lagi, mengalami hal yang sama di tahun 2016. Perbedaannya, hanya di peran. Jika pada Desember 2011, aku adalah seseorang yang dibuang hanya karena yang membuangku mau kembali pada mantannya, kali ini, adalah aku yang merasa dikhianati oleh seseorang yang masih berstatus sebagai pacarku. Mungkin kalian tidak akan percaya, tapi ini nyata, ini realita, ini fakta. Rio-ku. He cheated on me. Sudah kubilang, dalam sebuah hubungan tidak selalu manis, kadang sangat pahit, dan menyedihkan. Lucu ketika sebuah perasaan mampu membawamu melambung tinggi namun pada saat yang bersamaan mampu menjatuhkanmu. Dan lucunya lagi, kita, manusia, tidak pernah letih akan perasaan itu. Sebuah keajaiban Tuhan.
Kisahnya berlangsung selama bulan Desember. Hubungan kami berusia 14 bulan
Sabtu, 17 Desember 2016
Aku hendak pergi kerumah teman SMA-ku, Ika. Tidak ada maksud tertentu, hanya main saja. Teman-temanku yang lain juga akan datang. Karena Rio sudah kenal dengan teman SMA-ku, dan karena biasanya hari Sabtu adalah hari aku bertemu dengannya, maka aku berinisiatif untuk mengajaknya.
"Mau, nggak?" tanyaku
"Disana ada RCTI kan?" yang ia tanyakan justru saluran televisi yang memutar pertandingan sepak bola, karena memang di hari itu, sedang berlangsung pertandingan sepak bola.
"Ada sih kayaknya," jawabku
"Tapi malu juga sih...," katanya
"Kamu kesini dulu deh mendingan, nanti berangkatnya bareng. Kita lewat parung aja." katanya, lagi.
Aku menurut saja. Ketahuilah, aku sedang tidak ingin berdebat. Padahal, rasanya ingin pergi sendiri saja karena Rio kebanyakan beralasan. Tapi apa daya, daripada bertengkar.
Sejujurnya, hubungan kami sedang sangat tidak baik pada saat itu. Sekedar info, pada saat itu aku sedang menyelesaikan tugas akhirku dan sedang sibuk-sibuknya karena mengambil 15 sks mata kuliah lain ditambah 5 sks untuk skripsi. Aku tau dan aku sadar, bahwa waktuku banyak dihabiskan disana, dan waktu untuk Rio berkurang. Tapi, untuk ukuran seorang pacar seharusnya sudah konsekuensi baginya untuk memahamiku yang sedang berjuang. Dan, bisa kalian bayangkan, kan, bagaimana rasanya jadi aku? Memang, bukan seharusnya aku mengambil skripsi semester genap. Tetapi sejak awal, ia sudah mendukungku untuk lulus 3,5 tahun. Namun, lucunya, sikapnya bertolak belakang dengan ucapannya.
Aku sangat merasakan perbedaan sikapnya. Ketahuilah, aku termasuk salah satu manusia yang sangat perasa, entah mengapa. Kadang, aku benci ditakdirkan memiliki kepekaan yang melebihi batas. Ketika suatu hari kutanya mengenai perubahan sikapnya, alasannya berbeda-beda. Awalnya ia merasa bahwa keberadaannya tidak membawa efek untukku. Tapi akhirnya ia juga membahas kekuranganku yakni waktuku yang berkurang banyak akhir-akhir ini. It doesnt make sense, right? Dari dulu aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan umurnya, keburukannya, atau bagaimana ia. Aku merasa selalu menerimanya dengan segala kekurangannya. Tetapi, kenapa ia tidak bisa? Ya mungkin itu dari sisi aku. Mungkin kalau dari sisi dia rasanya tidak enak, ya. Mungkin. Kami sempat berdebat mengenai hal itu. Lebih detilnya silakan baca percakapan kami.
Percakapan ini terjadi pada 1 Desember. Jauh sebelum kenyataan pahit itu terkuak.
Sebelumnya, maaf apabila percakapan ini menyinggung satu atau dua orang. Aku merasa malas mem-parafrase-nya sehingga lebih memilih menuangkannya secara langsung. Supaya lebih orisinil juga.
Dari sanalah semuanya berawal, kalian bisa lihat sendiri, alasannya berubah-ubah. Seakan-akan ia ingin meninggalkanku tapi di sisi lain ia tidak mau. Dan ia terus berusaha meyakinkanku bahwa ia tidak cukup baik untukku. Dan kemudian aku yang melepasnya. Tapi, ia juga tidak mau dilepas. Lalu, bagaimana? Setelah itu, kami mencoba tetap menjalani semuanya seperti biasa. Namun, karena aku perasa, aku sangat merasakan perbedaan yang kami alami. Bagaimana semuanya tidak berjalan seperti yang seharusnya. Apapun dipaksakan. Seperti bersama segan, berpisah pun tak mau.
Kalau kalian tau aku, aku adalah pribadi yang sangat tidak suka berada di perasaan terombang-ambing. Menunggu sesuatu yang abu-abu. Apabila sudah berbeda perasaannya, kenapa tidak disudahi saja? Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang menarikku untuk tidak menyudahi hubungan kami. Lagipula, aku tidak yakin Rio mau. Karena seperti yang sudah-sudah, ia tidak pernah setuju untuk menyudahi hubungannya denganku.
Maka, 2 Desember kuputuskan untuk lebih memilih berjarak darinya. Berjarak. Bukan putus. Sama sekali tidak ada kata-kata putus dari aku maupun ia, baik dari lisan maupun tulisan.
Yang aku mau ketika kami berjarak adalah, kami introspeksi masing-masing. Mengejar apa yang harus kami kejar, dan 'pulang' ketika sudah sama-sama kembali seperti dulu perasaannya. Sudah jelas tertera bahwa aku sangat mewanti-wanti 'jgn rusak apa yang kita nanti2in dgn langkah kita yg salah'. Tapi, langkahku salah. Dan ia juga demikian. Keputusanku untuk menarik diri darinya justru memberikan kesempatan ke seseorang untuk bisa mengambil alih peranku. Sebagai pacar. Kalian tau kan maksudku?
Kembali ke 17 Desember.
Aku berada dirumah Rio sejak pukul 13.00 dan ia belum mandi. Memang, aku dan teman-teman janji kerumah Ika sekitar pukul 15.00. Maka masih cukup banyak waktu untuk bersiap-siap. Entah bagaimana, akhirnya Rio menyanggupi untuk mengantar serta ikut aku bertemu teman-teman.
"Udah sana mandi," kataku
"Iya, bentar yaaaah." katanya
Aku menunggunya mandi seraya menonton tv. Tidak lama, handphone Rio menyala. Ada notifikasi sms masuk di handphone-nya. Menurut kalian, aku masih pantas kan melihat handphone-nya? Tapi, keputusanku melihat handphone-nya memutar balikkan semuanya. Dunia, dan kepalaku.
Sms itu dari teman satu angkatannya, perempuan, sebut saja x. Isi smsnya singkat, namun sudah menjelaskan semua karena terdiri dari kata 'sayang' dan 'aku' dan 'kamu'. Apalagi yang perlu dijelaskan dari itu semua? Dengan kasar aku menaruh handphone itu kembali ke tempatnya. Pandanganku kunang-kunang. Pikiranku melayang entah kemana. Namun sebisa mungkin aku menyembunyikan apa yang sudah aku lihat. Aku berpura-pura kembali menonton tv walau aku tau, sikap dan mimik wajahku sudah sangat tidak biasa.
Rio kembali dari kamar mandi. Ia belum menyadari perubahan sikapku karena memang aku tidak menunjukkannya. Sampai akhirnya kami akan berangkat kerumah Ika, dan satu pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutku.
"Kamu ada hubungan apa sama dia?"
Dan aku rasa, ia sudah menyadari bahwa aku tau. Aku tau dia sadar siapa 'dia' yang kumaksud.
to be continued.





































0 comments:
Post a Comment