Wednesday, April 29, 2020

Edira: Bagian 4

Selama pedekate, Eky always being nice. Too nice malah. Ya biasalah, kalian pernah pedekate kan? Dan ga perlu dipungkiri lagi bahwa pedekate adalah masa-masa paling indah selama berhubungan. Salah satu yang paling manis adalah dia kasih gue kado ulang tahun (lagi) yaitu desain vektor gitu, gue kaget banget nerimanya dan senyum-senyum sendiri. Ga pernah gue diperlakukan se-spesial ini sama laki-laki. Ga percaya? Gapapa.



Oh iya, bagaimana kelanjutan hubungan gue sama pacar? For your information, senin, 03 September 2018 gue sudah officially putus sama pacar (eh untuk saat ini dan seterusnya gue akan menyebutnya mantan). Jadi senin malam, mantan gue ke kosan gue, mempertanyakan yang seharusnya dia pertanyakan. Karena sejak jumat lalu, (yang gue ketahuan telponan sama Eky) dia belum mendapatkan pernyataan dari gue karena mantan gue masih sibuk dengan kerjaannya. Oke balik ke topik. Malam itu gue ga punya paket data, setelah jam pulang kantor, gue ga bisa dihubungi via WhatsApp, hanya bisa dari sms. 
Singkat cerita, mantan gue tanya kita mau gimana kedepannya. Sejujurnya dia masih mengharapkan gue untuk kembali ke dia, karena dia pun memaafkan gue. Tapi gue udah gabisa meneruskan hubungan yang sudah tidak ada rasanya ini, udah bener-bener hambar aja gitu gue rasa, dan meneruskan hubungan bukanlah solusi. Gue malah makin menyakiti dia dan diri gue sendiri dengan membohongi banyak hati kalau hubungan ini terus berlanjut. Dan gabisa gue pungkiri juga, karena gue sudah jatuh sedalam itu ke Eky. Sebenarnya Eky ga menuntut apa-apa. Minggu lalu, dia cuma tanya gimana perasaan gue ke dia dan terus terang gue jawab gue sayang. Gue memutuskan hubungan dengan mantan gue juga bukan karena Eky memaksa gue untuk menyudahi hubungan. Eky mempersilakan gue menyelesaikan urusan gue dengan mantan kapanpun gue siap. Tapi dia pun tahu, bahwa gue akan secepatnya menyudahi hubungan karena gue ga mau bohongin mantan gue dalam waktu yang lama. Akhirnya setelah gue bersikeras untuk memutuskan hubungan, mantan gue pulang. Dan malam itu adalah malam terakhir dia lihat gue. 
Oh iya, ditengah percakapan gue dengan mantan, Eky telfon gue dan mantan gue lihat nama Eky dilayar. Panggilan pertama gue abaikan, lalu berubah menjadi panggilan tak terjawab. Ga lama Eky telfon lagi.
"Angkat tuh,"
Kemudian gue angkat. Eky tanya kenapa gue ga bisa dihubungi, WhatsApp pun ga deliv, sms ga dibales. Dia khawatir. Memang malam itu gue ga bilang bahwa mantan gue mau datang.
"Ga ada paket. Nanti aja aku belinya ya, ini udah dikosan," gue ga bilang kalau disitu ada mantan gue.
Begitu mantan gue liat Eky telfon gue, segitunya nyariin gue, dia semakin pasrah. Gue tahu disitu dia masih sangat berusaha membalikkan keadaan, tapi dia pun tahu, gue sudah sangat jauh berjalan sendirian. Dan sialnya lagi, sudah ada yang menyambut gue didepan sana. Hal inilah yang membuat dia gabisa memohon-mohon lagi seperti biasanya, dan hal ini juga yang menguatkan gue, bahwa gue layak dapat pengganti yang jauh lebih baik dari mantan gue. 
Setelah mantan gue pulang, gue cuma bisa berdoa banyak-banyak semoga langkah yang gue ambil ini ga salah. Tapi, kalau seandainya salahpun, gapapa, gue anggap itu karma. Tapi balik lagi, Eky bilang karma itu lahir dari orang-orang yang tidak mampu berkomitmen. Berkomitmen untuk tidak menyakiti satu sama lain, untuk tidak membohongi satu sama lain, untuk tidak meninggalkan satu sama lain.
Dan setelah itu, gue baru bisa buka hp dengan tenang. Ada sms dari Eky. Dan ada juga notifikasi pembelian paket internet yang masuk ke nomor gue. Okay, ternyata Eky beliin gue paket internet. Baik yah dia, tipikal orang pedekate hahaha (gak ding, dia memang selalu baik).



Setelah gue kirim WA itu, Eky telfon gue dan gue langsung bilang kalau barusan ada mantan gue dateng. Gue ga cerita banyak, pada intinya gue bilang ke Eky bahwa kita udah resmi putus. Dan…engga. Eky ga dengan tiba-tiba di dini hari itu langsung nembak gue. Kita tetep ngobrol seperti biasa, ngobrolin banyak hal dan sama sekali tidak mempertanyakan perihal status hubungan kita sekarang. Mungkin sebelum-sebelumnya gue trauma apabila menjalin hubungan tanpa status. Gue takut ditinggalin dan diphpin. Tapi entah kenapa kali ini gue ga takut. Entah karena udah capek mikirin itu dan udah bukan waktunya pusingin hal itu, atau karena kali ini orangnya adalah Eky.
Keesokan harinya, Eky chat gue di pukul 22.30. Dia kirim surat yang isinya kata-kata bagus banget. Seumur-umur gue belum pernah dikasih ginian haha. Dalam kalimatnya dia menanyakan sesuatu yang menjurus kearah “nembak” tapi kaya bukan “nembak” wkwkwk. Jujur terlalu bagus sampai gue bingung harus gubris apa. Yang jelas dia minta gue untuk baca dulu. Kapanpun gue siap, dia akan cetak itu, lalu tempel materai, terus gue disuruh tandatangan. Wkwk kaya dilan.
Kita ketemu lagi di tanggal 9-9-18. Dia kerumah gue untuk yang kedua kalinya, trus minta mau ke puncak lagi, tapi naik motor supaya ga kena buka tutup. Akhirnya gue jabanin haha. Kita berhenti di rindu alam buat makan bakso sama minum es kelapa. Entah kenapa disitu Eky langsung ngomong “semoga kita bisa ketemu lagi di tanggal 9-9-19 dengan perasaan yang sama.” Dalam hati gue: dih apaan, orang elu aja belom nembak, wkwkwk. Ga ding. Eky memang tidak secara resmi menyatakan perasaannya lewat kata-kata: “kamu mau ga jadi pacar aku?” karena memang udah basi. Kita udah saling tahu perasaan masing-masing dan kita hanya membutuhkan kejelasan status dan janji untuk komitmen aja, (plus, hari itu tanggalnya cantik) haha. Akhirnya gue tanda tangan surat yang dia bawa udah lengkap ditempel materai. 




Dan begitulah, awal mula dari semuanya. Awal mula cerita yang ga akan pernah berhenti sampai gue udah ga mampu lagi ngetik di blog ini, insyaAllah. Banyakkkk banget yang kita alami sampai detik ini baik suka maupun duka. We’re getting stronger day by day. Cekcok sangat sering, tapi makin cinta juga iya. Bahkan, 3 bulan yang lalu Eky sudah melamar gue didepan keluarga besar gue dan keluarga besar dia. So now he is no longer my boyfriend, but my fiancĂ©!!! Ah, I’m totally blessed. Gue ceritain detailnya disini ya kapan-kapan kalau ada waktu luang.  

Have a nice day u all,
Love from us.
Share:

Friday, September 20, 2019

Edira: Bagian 3

Pasca Eky putus sama pacarnya, dia semakin menjurus ke gue. Ngechat gue intens, ngingetin sholat, makan, bahkan sesekali ngobrol via telepon. Yang kita obrolin macem-macem, mulai dari kerjaan, kebiasaan, masa lalu, atau sekadar obrolan-obrolan receh. Udah pantes banget kalo dibilang, kita mulai pedekate. 
Eh, tunggu...
tapi gue masih punya pacar haha 
jahat ya?
Pada saat itu pacar gue berasa ada dan tiada, karena masih sibuk ngurusin event perhelatan olahraga yang gue ceritain itu. Pekan ini adalah pekan terakhir dan hari Minggu nanti penutupan acara. Gue mulai mikir setelah dia udah ga ngurusin event itu, dia akan balik lagi kayak dulu. Dan gue...ga siap. Gue udah terlalu nyaman memposisikan diri sebagai seseorang yang ga punya pacar dan sedang pedekate dengan orang baru. Gue merasa jahat, gue akui. Tapi coba kalian bayangkan, gimana rasanya ada di sebuah hubungan yang bener-bener udah ga bisa kalian pertahankan? Seperti yang gue bilang, gue udah ga bisa liat usaha yang dilakukan oleh pacar gue kala itu. Dan gue akui juga bahwa gue sudah terlanjur jatuh hati sama Eky. Pilihannya cuma 2, gue memutuskan untuk ga berhubungan lagi sama pacar gue, atau gue tetap menjalani hubungan gue dengan rasa yang sudah tidak ada. Jujur, gue lebih memilih untuk mutusin dia karena dari sebelum gue deket sama Eky pun, gue udah mutusin dia berkali-kali.
Tapi disisi lain, gue ga munafik, gue takut akan karma.
Denger cerita Eky soal mantannya yang lebih memilih orang lain ketimbang dia, dan ga lama setelah itu mantannya putus sama pacar yang dipilihnya itu, bikin gue mikir berulang kali buat ambil langkah.
Maka dari itu, gue manfaatkan kesempatan pedekate ini buat bener-bener mengenal Eky.
Menurut gue Eky juga jahat dengan begitu aja ninggalin pacarnya dan lebih memilih buat jomblo dulu. Dan sekarang yang dia deketin adalah gue, perempuan yang masih punya pacar. Gue ga ngerti apa niat dia sebenarnya, kenapa dia nggak beralih balikan lagi aja sama mantannya yang dulu banget, mumpung sama-sama jomblo. Ya gak sih? Makanya, disinilah waktu gue untuk menggali sedalam-dalamnya.

Pertemuan #7
Minggu, 2 September 2018
Kita sepakat untuk ketemu lagi, hanya berdua, pertama kalinya dan entah apakah akan jadi yang terakhir atau engga. Gue bener-bener gabisa nahan perasaan suka gue ke Eky, makanya gue memanfaatkan waktu sebisa mungkin. Mumpung hari ini pacar gue bakal sibuk banget karena penutupan event.
Eky sampai di Bogor pagi banget, sekitar jam setengah 7. Untungnya gue udah rapi dan siap berangkat. Dia bawa mobil dari Bekasi dan rencana kita adalah mau main ke puncak jadi gue sarankan dia untuk datang sepagi mungkin. Eky turun, masuk kerumah, dan menyapa orang tua gue. Nyokap bokap gue kaget setengah mati. Bayangin aja, anak perempuannya diapelin sama laki-laki yang berbeda, bukan pacarnya seperti biasa. Orang asing pula. Gue ga inget Eky ngomong apa ke nyokap bokap gue, yang pasti dia memperkenalkan diri sebagai rekan kerja. Dan kita mau main ke puncak. Ga lama, kita berangkat.
Gue canggung luar biasa berduaan gini sama Eky, serius. Gue masih bisa ngerasain gimana deg-degannya waktu dia pamit sama nyokap bokap gue. Gimana gugupnya gue begitu sebelahan sama dia di mobil. Kikuk, asli. Kayak bukan Sekar yang biasa. Padahal biasanya ngobrol sama Eky tuh yaudah mengalir aja. Tapi hari ini beda. Dia pakai kaos navy hampir sama kaya yang dipakai ke Dufan tapi beda, pakai sneaker, dan jeans. Gue mencoba membuka obrolan dengan,
"Ga mau sarapan dulu, ky?"
"Sarapan apa ya enaknya?"
"Di ruko depan biasanya banyak tukang jualan tuh,"
Pas udah sampai di ruko depan, ada tukang bubur tapi ngantri banget. Mau mampir takut tol semakin macet, alhasil gue turun dan beli roti sobek di Alfamart. Rasa cokelat.
Seiring berjalannya waktu, gue berhasil menemukan ritme dan menyamankan diri gue didepan Eky. Udah mulai luwes dan ga kikuk lagi. Kita menyusuri jalanan menuju puncak. Di mobil, kita banyak ngobrol, ngobrolin apa aja yang ga bisa diobrolin via telepon. Gue lupa obrolannya apa aja. Andai waktu itu direkam, pasti seru banget bisa dengerin lagi. Tujuan pertama kita adalah ke Curug Cilember. Yak, gue sampe sekarang masih bingung kenapa gue bawa dia ke curug??? Tapi emang dia suka ke tempat yang alami alami gitu jadi entah kenapa dipikiran gue terbesit curug ini hahaha. Jalannya nanjak luar biasa, mana waktu itu gue pake flatshoes, bukan sendal jepit. Fix banget pulang-pulang bawa tanah merah. Rambut udah lepek ga karuan, muka udah luntur kali ya bedaknya haha ancur dah pedekate gue. Tapi ga masalah, justru ini anehnya kita haha. Gaada kan yang pas pedekate terus jalan berdua destinasinya ke curug? Gue yakin ga akan ada. Tapi gue hepi banget asli, jadi bisa buktiin ke Eky bahwa gue bukan perempuan manjahhh sosialitahhh yang gamau capek, gamau kotor-kotoran, bisa buktiin ke dia bahwa gue strong hehe. Disini juga Eky ga pernah lepas buat pegang tangan gue (biar ga jatoh gitu maksudnya) haha.
Monmaap ya mas-mas yang belakang jadi figuran hihi...
Pas sampe dibawah, kita laper. Dan berakhir makan indomie ditengah hutan. Gue mie goreng, dia mie rebus, ayam bawang. Sungguh sebuah lunch yang sangat romantis, hehe. Ga lama setelah makan turun hujan. Alhasil kita neduh dulu di bungalow gitu. Hujannya lumayan lama ga berhenti-berhenti, akhirnya Eky inisiatif untuk beli ponco, terus ke mobil, ambil payung buat gue. Pas balik lagi ke gue, dia ngos-ngosan karna jalannya nanjak dan lumayan jauh. Hadeh...dimana lagi gue nemu laki-laki macem gini ya...
Rencana berikutnya tadinya kita mau naik ke puncak pass buat mampir ke masjid dan kebun teh. Tapi sayangnya, waktu sudah menunjukkan pukul 3 dan udah waktunya one way kebawah. Akhirnya kita ikutin arus turun dan berhenti di restoran Cimory Riverview. Oh iya! Dijalan menuju Cimory, Eky tanya satu hal ke gue,
"Kar, gimana sih perasaan lo ke gue sebenernya? Sayang kah?"
"Kalo gue ga sayang gue ga mungkin ada disini, ky..."
Terus dia bales
"Iya juga ya..."
"Tapi gue takut karma ky..."
"Kar, karma itu kita yang ciptain. Kalo kita berdua udah komit buat ga nyakitin satu sama lain, ga akan ada yang namanya karma,"
Kalimat itu terus terngiang dipikiran gue, bahkan sampai detik ini ketika gue ngetik kalimat itu. Kalimat itu pula yang kemudian membuat gue menentukan pilihan.
Bisa disimpulkan, hari itu terjawab semua. Kenapa Eky dengan teganya berbuat jahat ke pacarnya, lalu kenapa sekarang dia ga balikan sama mantannya yang dulu, kenapa dia deketin gue, dan apa dia ga sadar kalo gue masih punya pacar? Semuanya terjawab, dan gue sudah yakin dan Eky berhasil membuat gue menentukan pilihan.
Sebenarnya, yang belum kalian tau, jumat lalu, ketika gue lagi telfonan sama Eky, pacar gue Whatsapp.
"Lagi telfonan sama siapa? Aku telfon kok tulisannya Sekar is on another call?"
Gue panik. Sebisa mungkin gue berdalih
"Itu...vendor...tadi nanyain barangnya yang ditinggal dikantor,"
"Jangan bohong. Mana ada vendor telfon jam segini,"
Akhirnya, gue terus terang. Gue bilang semuanya ke pacar gue. Bilang kalau gue deket lagi sama Eky, bilang kalau gue nyaman sama dia, bilang semuanya. Diluar ekspektasi, pacar gue malah bilang,
"Kalau kamu mau sama dia gapapa, pergi aja. Aku bahagia liat kamu bahagia. Aku tetep sayang kamu gimanapun,"
DANG! Pacar gue ngomong begitu, tanpa gue duga. Gue pikir dia akan marah dan narik-narik gue seperti biasa, tapi ini engga. Dia legowo dan melepaskan gue, tentunya dengan sedih. Tapi gue sama sekali ga merasakan kesedihan itu.
Setelah pacar gue bilang gitu, gue ga dengan gegabah mutusin dia. Gue masih ragu-ragu akan Eky. Gue masih pengecut. Gue takut ketika gue pilih Eky, kemudian ga lama dari itu Eky pergi ninggalin gue. Jujur, gue lebih ga siap kehilangan Eky. Gue tau, kala itu pacar gue udah ngerasa kalah segala-galanya. Tapi gue pun gamau jadi orang yang lebih jahat dengan bohongin dia terus menerus. Gue ga bisa.
Padahal berharapnya, dengan gue jujur, pacar gue langsung mutusin gue lalu pergi dengan kecewa. Nyatanya engga. Yasudah. Bagaimanapun, gue tetap akan dicap jahat.

Eky nganter gue sampe rumah, bahkan dia sempet masuk dan numpang ke masjid dideket rumah.  Nyokap gue yang udah kepo banget akhirnya nanya ke gue.
"Ke puncaknya cuma berdua?"
Gue ngangguk
"Ibu kira sama teman-teman yang lain juga,"
"Engga...,"
"Rio gimana?"
Gue agak diam dulu sebentar.
"Udah engga bu. Udah ga cocok,"
Nyokap gue ga banyak berkomentar. Cuma berpesan,
"Putusnya baik-baik loh ya...gaboleh jahat. Inget, kamu punya adik laki-laki,"
Dalam hati gue *lha trs knp*
"Ibu sih dukung aja mau siapa juga. Yang penting baik, agamanya bagus,"
"Iya bu. Mba aas juga carinya calon suami kok udah bukan pacar lagi,"
Terus gue liatin nyokap gue mesam-mesem
"Itu dia emang udah kebiasa ke masjid mba?"
Hehe, paling bisya emang Eky ambil hati ibu-ibu, heleh-heleh....

Pukul 20.30 dia pamit, karena besok senin dan kembali bekerja. Dia menghadiahkan gue sekotak berisi cokelat dan gantungan kunci kecil berisi cokelat juga. Katanya hadiah ulang tahun.


Sebelum pamit, dia tanya ke gue,
"Gue boleh cium kening lo ga?"
Terus gue ngangguk, dan dia cium.
Kemudian dia berlalu, meninggalkan satu. Senyum.

To be continued.
Share:

Friday, January 18, 2019

Edira: Bagian 2

Pertemuan #6
25 Agustus 2018. Gue dan beberapa rekan kerja udah janjian buat main ke Dufan di hari itu. Memang udah dari jauh-jauh hari kita ngerencanain semuanya. Di bayangan gue pertama kali, Eky ga bakal ikut karna beberapa hal. Pertama, ada kemungkinan dia masuk di hari itu, kedua, gue ga yakin dia bakal ikut karna dia terlihat adem ayem aja sama pacarnya yang berarti kemungkinan dia lebih mengutamakan pacarnya. Entah kenapa feeling gue kuat bgt akan hal itu.
Tapi ternyata, Eky ikut.
Cerita bermula ketika gue sama Talita lagi pesen makanan di KFC karna kita laper, tiba tiba Eky muncul dari belakang. Ngerangkul kita berdua. Gue kaget karna ga tau sama sekali kalo Talita janjian sama Eky. Gataunya mereka emang ngomong di grup tapi gue ga nyalain paket data untuk ngirit baterai. Hari itu Eky pake kaos navy, jeans, slingbag, sama sneakers nike yang katanya punya adeknya haha. Ganteng, seperti biasa. Dia ngeliatin gue sama Talita sarapan soalnya ngakunya udah sarapan wkwk. Abis itu kita bertiga naik angkot karna dirasa aman-aman aja. Di depan gerbang ancol udah ada Gerdyan, Hilda sama Oliv. Terus kita masuk ke dalam.
Hari itu luar biasa, bisa dibilang hari itu adalah hari terbahagia di 2018. Gue sama Eky makin deket. Dia entah kenapa selalu mau deket-deket gue terus. Tapi gue iyain. Karna di hari itu gue mau egois. Gue mau bahagia walaupun sesaat dengan ga mikirin perasaan orang lain, entah pacar gue ataupun pacar Eky. Sempet gue tanya ke dia, "cewek lo ga diajak?" "udah, tapi dia gamau," setelah itu gue ga nanya nanya lagi karna sudah cukup jelas bahwa dia masih sama pacarnya. Makanya, kalau sesekali Eky main hp keliatan ngebales Whatsapp seseorang, gue cuma bisa berpaling muka dan coba untuk ga mikirin. Kecewa, iya sedikit. Tapi setidaknya, hari itu dia milik gue, milik kita-kita yang ada disini. Gitu aja rasanya udah membahagiakan banget.
Gue cerita dulu perihal bagaimana hubungan gue dan pacar gue saat itu. Udah sekitar dua minggu gue ga ketemu pacar gue karna dia jadi volunteer sebuah perhelatan olahraga nasional. Komunikasi seadanya, telfon pun bisa dihitung jari, cerita yang mau gue ceritain menguap begitu aja tanpa dia tau. Dari cerita gue sebelumnya, gue memang sudah renggang kan sama pacar gue? Dan itu terjadi terus menerus dan semakin parah. Puncaknya sekitar bulan Juli, tanggal 12.
Sebenernya, gue udah mutusin dia (lagi dan lagi), dia tanya kenapa, lalu gue bilang,
"simple, sampe kapan aku harus nunggu kamu? PR kamu masih banyak... dulu aku pikir perbedaan usia yang cuma segini ga bikin kita beda jauh, nyatanya jauh bgt,"
dan dia jawab dengan
"yaudah kalo kamu belum bisa yakin gapapa nanti aku yakinin kamu kalo aku udah punya semuanya,"
Yaampun. Disitu kedengerannya gue matre bgt ya. Dan disitu pula pacar gue agak menyinggung soal Eky. Dia bilang, "sebelum kamu kenal dia juga kamu ga gini," LAHHH? HELLOW, kok nyalahin Eky? Gue ambil keputusan ini sendiri loh, tanpa Eky tau, bahkan kayaknya dia pun bodo amat gue sama pacar gue lagi kayak gimana. Tapi kayaknya di benak pacar gue ini gue ngambil keputusan seperti ini karna ada sangkut pautnya dengan gue yang mau ke Eky, padahal mah boro-boro.
Oke, let me explain, poin paling utama adalah gue capek nunggu dia lulus kuliah. Harusnya dia bisa lulus Agustus nanti, malah mulur lagi ke Januari, dan itu masih lama, banget. Gue udah terlalu ga sabar. Iya kalau usaha pacar gue sudah maksimal, kemudian dia gagal itu masih gapapa. Tapi sepertinya gue juga udah ga bisa terlalu ngarep karna dianya juga seperti itu. Gue bukan tipe perempuan yang mengharapkan pasangan gue serba lebih, engga sama sekali. Yang gue mau adalah gue dan pasangan gue sama-sama melengkapi satu sama lain. Kalo umur segini masih merangkak dari bawah, ya mari kita usaha bareng-bareng. Dan untuk keadaan yang sekarang ini, istilahnya gue udah di angka 2, sementara pasangan gue merangkak ke angka 1 pun belum. Terus kalo gue menyerah, apa gue akan tetep disalah-salahin karna gue ga sabar?
Banyak faktor lain yang ga bisa gue jelasin disini. Gue udah ga menemukan titik terang, harus gimana lagi gue menghadapi pacar gue ini. Gue ga bisa merasakan apapun lagi. Gue udah ga bisa liat usahanya dia lagi. Tapi ya gitu, tetep aja kita ketemu, chattingan, tapi beneran gue ngerasa udah ga ada apa-apa. Bahkan di hari ketika gue ke Dufan, gue ga bilang ke dia. Hehehe. Takut panjang urusannya, padahal gue cuma mau bahagiain diri sendiri.
Temen gue, Oliv, tau kalau gue sama pacar gue lagi jauh. Jauh baik secara harfiah maupun kiasan. Pas lagi ngantri salah satu wahana, dia nyinggung "kemana tuh si rio," "ke laut," gue jawab. Terus Eky notice dan kemudian tanya, "hah lagi kenapa lo sama cowok lo?" gue jawab dengan "engga, dia lagi volunteer asian games," Gue sama sekali ga sadar Eky tanya hal itu karna ada sesuatu, gue pikir yaudah aja sekadar bertanya.
Hari itu Eky pegang tangan gue dua kali. Di halilintar ketika dia maksa gue buat nemenin dia duduk di paling belakang, dan pada saat naik tornado. Kalo tornado, gue yang maksa minta ditemenin karna seumur-umur ke Dufan belum pernah naik tornado. Dia juga sering mijitin gue tiap lagi antri wahana. Oliv sama Talita entah kenapa diem aja. Seolah-olah semesta mendukung gue untuk bersenang-senang hari ini:") maaf ya pacarnya Eky, pacarnya saya pinjam dulu.
Di ujung hari, kita pisah di stasiun kota. Eky naik kereta Bekasi sedangkan gue Talita dan Oliv naik kereta Bogor. Eky meluk gue, tapi meluk Oliv dan Talita  juga. Jiah, gajadi ge'er hahaha. Entah kapan lagi bisa ketemu Eky, tapi yang jelas gue bahagia hari itu. Bahagia banget.
Setelah pulang, Eky ngechat gue. Alibinya sih mengkhawatirkan Oliv yang entah akan dapet kereta Tangerang atau engga. Tapi gue tau itu kayaknya modus hahaha. Singkat cerita, kita chat-an sampai berganti hari karena di hari itu gue ulang tahun.
Disitu gue seneng tapi juga bingung, Eky ngucapin (entah pertama atau kedua) barengan sama pacar gue yg kala itu nelfon bentar buat ngucapin. Gue serasa bangun dari mimpi karena pikiran soal Eky yang masih sama pacarnya seketika membuyarkan imaji gue akan dia. Begitu juga kenyataan bahwa gue masih punya pacar. Dengan berat hati gue merelakan hari kemarin, hari paling membahagiakan sejauh ini.
26 Agustus malam ketika gue udah tidur, gue denger samar-samar bunyi chat Whatsapp. Dari Eky. Gue cuma lihat sekilas lalu tidur lagi karna ngantuk berat. Hari ini sejak dia ngucapin ulang tahun, gue ga lanjut chat-an sama dia karena beberapa alasan di atas. Gue ga mau baper terlalu jauh lagi. Sebisa mungkin gue harus balik lagi ke trek gue. Paginya, gue bales chat dia semalem.
Gue punya lumayan banyak waktu untuk dengerin apa yang mau dia ceritakan.
Kalimat pertama, dia tanya
"kira-kira lo bisa nebak ga kar gue mau ngomong apa, kalo nada suara gue udah gini?"
Haha, jujur gue waktu itu ga ngeh bedanya apa karna masih ngantuk dan ya emang ga kedengeran beda. Gue jawab aja "engga ky, ada apa?"
Jeda
"gue putus kar sama cewek gue,"
Jeda.
Gue berusaha mencerna apa yang dia bilang. Seketika gue sadar sempurna, ga ngantuk lagi.
Singkatnya eky cerita, bahwa bukan cuma gue yang hubungannya lagi di ujung tanduk, dia dan pacarnya pun demikian. Dia ceritain gue semuanya, detil, tentang dia yang sebenarnya ga cinta-cinta amat sama pacarnya, tentang dia yang jadi korban perselingkuhan mantannya yang dari SMA kemudian sakit hati banget trus jadian sama pacarnya yang sekarang cuma sekadar biar dia bisa move on, tentang pacarnya sekarang yang posesif banget dan ga suka kalo Eky main sama temen-temen SMA nya (yaiyalah bo', ada mantannya haha), tentang pacarnya dan mantannya yang berantem mulu di medsos, perang dingin padahal ga kenal. Gue mendengarkan dengan sabar, tapi otak gue ga berhenti mikir juga.
It's just like a puzzle. Ada bagian yang saling mengisi. Semuanya berkesinambungan jadi satu disaat bersamaan. Bayangin aja, hubungan gue lagi ga jelas, terus gue menghabiskan waktu sama Eky, ngarep lagi, tapi sadar kalo gue harus putar balik secepatnya. Disaat gue berusaha untuk balik ke trek semula, Eky datang dengan berita yang cukup bikin kepala gue pening. Gue sama sekali gatau kalo ternyata hubungan dia pun sekacau itu karna ya emang gue ga berusaha nyari tau. Gue yang ga berani menaruh harapan apa-apa, malah kayak disamber geledek denger kabar itu.
Balik ke topik. Saat itu Eky cerita bahwa puncaknya adalah dua hari kemarin, sabtu dan minggu. Pacarnya bete karna Eky lebih memilih buat ke Dufan dibanding ngapelin dia. Dan kebetean itu terus berlanjut sampe minggu, Eky sengaja mengiyakan ajakan temen SMA nya buat main, ngerayain ulang tahun salah satu temennya, dan disitu ada mantannya juga. Entah tau darimana, tapi pada akhirnya pacarnya tau bahwa Eky main lagi sama temen SMA (yang ada mantannya) itu. Ngamuklah dia, terus...minta putus...
Seperti gue, Eky bilang dia ga berusaha buat narik-narik pacarnya, minta maaf, ngebaik-baikin, malah nyari masalah karena dia betul-betul udah jenuh sama semuanya. 
Sebagai cewek gue berusaha memposisikan diri sebagai pacarnya Eky, dan gue agak ngerti sih perasaannya gimana. Makanya yang gue tanya ke Eky pertama kali setelah dia selesai cerita adalah:
"Emang perasaan lo ke mantan lo sekarang gimana, ky?"
Lalu dia jawab,
"Udah ga ada perasaan apa-apa kar. Gue emang dulu sesayang itu sama dia, sampe 3 tahun. Tapi ngeliat kelakuan dia yang dulu, gue agak trauma kalo harus mulai lagi sama dia,"
Dan gue sudah cukup paham bahwa seharusnya ga ada yang perlu ditakutkan oleh pacarnya Eky, karna Eky pun gue rasa bertanggung jawab sama apa yang dia bilang.
Percakapan itu masih berlanjut,
"ky, sekarang gue tanya, apa yang lo rasa sekarang? Apa yang lo rasa semalem ketika cewek lo minta putus?"
"sedih sih kar,"
"nah. Berarti kalian masih saling sayang ky. Perempuan kalo lagi emosi emang suka ngomong sembarangan. Langsung ambil keputusan gegabah. Sekarang lo bujuk dulu aja, siapa tau dia berubah pikiran dan mau maafin lo,"
Gue rela ga rela sih ngomong begini, tapi keadaan akan jauh lebih runyam kalo Eky beneran putus sama pacarnya. Terus terang aja, gue belum sesiap itu untuk pindah gitu aja ke Eky. Saat itu, rasanya Eky memberi semua beban yang ada ke gue. Istilahnya, 'nih ya kar, gue udah selesaiin masalah gue, sisanya tinggal lo yang nentuin mau gimana,'
Eh, gue ngomong apa sih ya.
Emang Eky kalo resmi putus sama pacarnya pun, jadi ngedeketin gue gitu? Emang dengan dia cerita ke gue soal ini semua, dia fix abis itu bakal cari cara buat deketin gue, walaupun gue masih punya pacar? Bahkan sampai pada tahap ini, gue masih ga berani berspekulasi bahwa Eky suka sama gue. Iya, senegatif itu gue orangnya.
Kemudian Eky menerima saran gue untuk membujuk pacarnya dengan harapan pacarnya akan maafin dia dan mereka kembali seperti semula. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik buat Eky dan pacarnya karna gue percaya apapun yang terjadi pasti ada campur tangan Tuhan dan semesta di dalamnya. Toh gue saat ini cuma mau jadi pendengar yang baik buat dia. Soal kenapa dia yang memilih gue untuk tempat ceritanya, gue ga tau dan ga mau cari tau.
Setelah cerita itu, kita masih cerita-cerita soal yg lain. Soal rencana ke depan, bagaimana Eky merencanakan masa depan sama calon istrinya nanti entah yang mana. Terus gue tertegun, gue ga pernah mendengar rencana yang sematang itu dari mulut pacar gue. Emang disini gue salah karena membandingkan, tapi hal ini yang lagi-lagi menyadarkan gue, apa pacar gue sudah jadi pacar yang terbaik?
Lalu secara ga sadar gue bilang ke Eky "wah gila, beruntung banget yak yang jadi cewek lo, hehe,"
Dan berakhirlah perbincangan gue karna hari udah makin siang dan gue harus ke kantor. Di sepanjang jalan ke kantor, gue mikir, mikir, dan terus mikir. Semua pertanyaan kayak muncul begitu aja di otak gue. Kenapa, bagaimana, gimana, dan bla bla bla.
Sepanjang hari itu, kita terus chat-an dan lebih intens dari biasanya. Seriously, you all can judge me because i seems like a jerk, but believe it or not, gue ga bisa mengontrol diri untuk ga nanggepin Eky. Entah kedepannya akan seperti apa, apa dia akan ninggalin gue gitu aja ketika dia bener balik sama pacarnya atau bahkan punya gebetan baru, gue ga peduli. Segila itu gue dibutakan oleh rasa suka.
Tapi... di penghujung hari, gue dapet sebuah kabar. Kabar yang bikin gue bingung entah harus seneng atau sedih
Gue ga bisa dengan gegabah dan pede ninggalin pacar gue, walaupun gue udah sama sekali gaada rasa sama dia. Karena gue masih belum tau maksud Eky ini ke arah mana. Kalau gue mau ge'er, gue bisa aja ge'er karena dia udah menjurus banget ke gue, tapi tetep aja...gue masih terus menerus mikir paitnya. Tapi bagaimanapun, secara tidak langsung gue sudah berbuat jahat ke pacar gue dengan dekat sama Eky. Apakah nantinya Eky akan lebih menunjukkan dirinya yang suka ke gue atau engga, tetep aja gue udah berbuat jahat ke pacar gue. Dan rasanya langkah gue untuk bener-bener putus sama dia makin terbuka lebar aja dengan keadaan yang sekarang.
Besoknya, gue beranikan diri untuk cerita ke Oliv, Alga dan Gerdyan soal Eky yang putus sama pacarnya dan sampe saat itu masih chat-an sama gue. Mereka kaget, kenapa bisa semendadak itu dan secepat itu. Solusi mereka cuma satu, gue ga boleh jadi orang jahat. Dan gue tau, mereka ngomong begitu karena mereka takut gue akan kena karma.
Dan sebenarnya, hal itu juga yang jadi pikiran gue. Bagaimanapun, Eky hanya seorang laki-laki yang sama sekali belum gue kenal sedalam itu. Masih ada kemungkinan dia akan melakukan apa yang kemarin dia lakukan kalo nanti gue jadi pacarnya. Gue masih perlu diyakini dan meyakini diri gue sendiri.
Dan rasanya, semua pertanyaan itu masih menggantung, tinggi...

To be continued...
Share:

Sunday, November 25, 2018

Edira: Bagian 1

Halo,
Sudah cukup lama gue ga cerita disini sampe bingung harus cerita darimana. Oke, gini...

Setahun yang lalu, tepatnya Desember 2017, gue kenalan dengan seorang laki-laki. Anak baru di kantor gue, tapi beda cabang. Dia ditempatkan di cabang Ancol, sedangkan gue di Serpong. Namanya Eky. Gue berusaha buat cari tau tentang dia karena gue sama dia satu kelompok di acara kantor. Namanya Harmony Day. Pertama gue WA dia,
Gaada kesan berarti waktu pertama nge WA dia. Gak ada bayangan sama sekali dia orangnya kayak gimana. Cuma bisa ngeliat fotonya dari foto WA, dan masih ga terlalu jelas. Eh tapi sempet ada yang bilang. 'badannya tinggi, gede'. Lalu gue berpikir, 'duh serem amat. Bukan tipe gue nih :'D' Ya karena waktu itu gue masih punya pacar juga. Gak ada pikiran buat kepo lebih jauh sama orang ini. Toh nanti juga ketemu.
Beberapa hari kemudian, dia telfon gue, pake telfon kantor. Ngobrolinnya juga ngomongin bagaimana mekanisme kelompok kalo ga salah. Tapi, kedengeran banget dia gugup. Hahaha. Belibet gitu ngomongnya. Dalam hati gue bergumam 'ni orang kenapa...'
Pertemuan #1
05 Desember 2017. Sampai akhirnya, gue bertemu dengan dia. Kesan pertama kali adalah, 'mana gedenya, segini mah proporsional' hehehe. Eky ga terlalu tinggi, tapi tetep lebih tinggi dia dibanding gue. Sama seperti di foto WA, dia ya dia, kumisan, kacamataan, seperti banyak laki-laki pada umumnya. Tapi di hari itu, gue ngerasa dia keren banget. Rambut model sekarang, yang pinggir-pinggirnya tipis itu, kacamata, kumis, kemeja flanel merah, jeans, jam tangan, dan sepatu...apa ya namanya. Yang jelas keren, banget, gue suka stylenya. Dia menjabat tangan gue, memperkenalkan diri, gue pun demikian. Pembawaannya santai, supel, dan nyambung juga diajak ngobrol. Tapi gue masih belum merasakan getaran apapun.
Eky yg kacamata, gue yg ijo

Hari itu kita habiskan dengan satu sesi seminar, sisanya gue balik ke Serpong. Tapi keesokan harinya, gue balik lagi ke Ancol karna acaranya memang dua hari. 

Pertemuan #2
06 Desember 2017. Keesokan harinya, entah kenapa gue makin ngerasa deket sama Eky. Dari bahasa tubuhnya, dari gerak-geriknya, entah percaya atau engga, dia menjurus banget ke gue. Dan bodohnya lagi, entah kenapa alam bawah sadar gue sama sekali ga nolak dia. Ga ngerti kenapa. Beda sama temen-temen gue yang lain, gue masih jaga jarak, tapi engga buat Eky.
Apa coba maksudnya nutupin matakuw?:')
Apa coba melet-melet
Jujur, hari itu gue baperrrrrrr bangetttttt, padahal kayaknya yang dia lakuin ke gue ya biasa aja. Kayak sholat dzuhur berdua, jalan dibelakang gue, ngeraih pinggang gue, dia ngabisin bakso gue, nemenin gue makan siang, sampe di akhir hari ketika gue mau pulang dan sepatu gue ketinggalan di ruangan, dia nganterin buat balik lagi padahal gue bisa sendiri. Sebenernya laki-laki lain pun (mungkin) akan melakukan hal yang sama ke temannya, tapi entah kenapa gue baper. Sampai akhirnya, kita harus mengakhiri hari itu dengan sedih.
Di mobil, temen-temen gue, Gerdyan, Oliv sama Alga ngerumpiin gue dan yakin banget bahwa Eky naksir gue. Gue berusaha ga ngegubris mereka walaupun pada kenyataannya, gue juga baper.
Gue luar biasa baper, tanpa bilang ke Eky. Atau siapapun. Satu-satunya yang gue curhatin adalah Ika, sahabat gue. Gue ngomong panjang lebar di telfon. Gue kasih foto-foto kita, gue kasih video yang ada Ekynya. Ika cuma bilang
"Ganteng sew,"
Tapi kemudian,
"Gak boleh jahat, gak boleh banding-bandingin Eky sama Rio. Karna lu pasti cuma dapet yang buruk-buruknya aja di Rio. Lu kan belum tau juga Eky orangnya gimana, baik engganya,"
Iya, bener. Sejak ketemu Eky gue memang jadi membanding-bandingkan Eky dengan pacar gue dan udah pasti, Eky pemenangnya. Keyakinan gue akan pacar gue luluh lantak begitu aja. Gue gak mau jadi orang jahat walaupun sebenernya perasaan gue ke pacar gue memang sudah dan makin berkurang jauh. Sejak dia yang ketahuan selingkuh di belakang, entah kenapa hubungan kita ga seperti sebelum kejadian itu. Padahal kita udah coba untuk membuat hubungan itu lebih baik. Tapi, dengan kita berdua yang makin tumbuh dewasa, dan masalah hidup kemudian menjadi lebih kompleks, ditambah lagi dengan perasaan terlarang gue akan Eky, semakin memperkeruh keadaan.
Tapi balik lagi, gue ga boleh jahat. Kalo gue nekat, gue bisa aja nyatain perasaan ke Eky dan kabur gitu aja dari pacar gue. Nyatanya, engga. Gue masih berusaha menyelamatkan hubungan gue dengan pacar gue ini.
Dan akhirnya gue berusaha telen sendiri aja rasa suka itu dalam rangka ga mau menyakiti siapapun, termasuk gue sendiri. Toh gue sama sekali gatau Eky disana punya pacar atau engga. Dan Eky pun terlihat ga mengusahakan gue yang berarti, dua hari itu ga berarti apa-apa untuk dia.
Sampe suatu hari, ketika lagi kerja aja seperti biasa, dan gue udah gatau lagi kabar Eky, ada kabar burung datang dari rekan kerja gue, Oliv.
"Talita (rekan kerja kita juga, tapi di cabang Ancol) pernah bilang ke gue kalo Eky punya cewek dan ceweknya cakep banget, tapi ya gitu, dia juga suka yang ucul-ucul macem lu gitu,kar.."
Gue diem. Mikir. Gila, kalo Eky punya cewek, berarti yang kemarin itu apa? Emang gue gak bisa nuntut apa-apa karena pada kenyataannya kita emang gak ada apa-apa. Semuanya ya cukup di hari itu aja. Tapi gue mikir lagi, untung aja gue dikasih tau kalo Eky punya cewek dan kelakuannya kayak gitu. Coba kalo gue gak tau, terus gue posisi jadi ceweknya, apakah dia akan ngelakuin hal yang sama kayak yang dia lakuin ke gue? Kita ga pernah tau. Seketika gue bersyukur, kejadian kemarin yaudah aja hanya sekadar angin lalu. Gue akan berusaha ga baper lagi ketika ketemu dia nanti, atau kapanpun kalau ketemu. Toh kita berjauhan. Dan untungnya lagi, perasaan yang ada ini, Eky ga pernah tau. Jadi, gue akan berusaha memposisikan diri sebagai rekan kerja aja, ga lebih. Titik.
Dan entah kenapa gue jadi ngerasa bersalah karena suka sama cowok lain pada saat gue masih punya pacar. Entah ini karma yang langsung gue dapat atau gimana, yang jelas gue agak sedikit menyesal kenapa bisa suka sama Eky disaat gue masih berdua. Istilahnya, rasa bertanya-tanya gue langsung dijawab kontan sama Tuhan, bahwa gue ga boleh jatuh cinta terlalu jauh sama Eky. Pada saat itu gue berpikir, mungkin Tuhan nunjukkin jalan ini dengan alasan yang kuat, bahwa gue sama pacar gue masih terus disuruh berusaha, gimanapun caranya.

Pertemuan #3
08 Januari 2018. Gue ketemu Eky lagi. Kali ini, gue ke Ancol untuk beberapa keperluan. Gue bertingkah biasa, sangat biasa. Tetap menganggap dia sebagai teman, gak lebih. Tapi gue merasa banget, dia berubah jadi agak ngejauh. Gue pikir, 'oh, mungkin dia sadar kalo dia masih punya cewek. Mungkin dia mau berubah dengan lebih menghargai ceweknya.' dan gue, ya antara senang dan sedih sih. Tapi gak papa. Berarti gue memang harus menjalani hubungan gue lagi, seperti biasa.
Dengan dia yang jaga jarak, jujur gue ngerasa sedikit sedih. Tapi siangnya, dia bertingkah biasa lagi, tapi masih canggung hehe. Entahlah. Ga selepas ketika kita pertama kali ketemu.
Gue gak lama di Ancol, siangnya gue balik lagi ke Serpong. Dan semua kembali seperti sedia kala. Dia dan gue sama-sama kembali menjalin hubungan, dengan pasangan masing-masing, tentunya.

Pertemuan #4
17 April 2018. Kita ketemu lagi di acara seminar luar kantor. Entah kenapa gue dipasanginnya sama dia -_- gara-gara manajer gue. Seminarnya di deket kantor Serpong. Jadi, Eky ke Serpong pake driver kantor. Pagi-pagi banget dia udah ngabarin gue kalo dia udah nyampe kantor Serpong, meanwhile gue masih di kosan haha. 



Gue sama dia ngobrol seperti biasa, lagi-lagi, kayak rekan kerja pada umumnya aja. Kita berdua bener-bener profesional. Sampe ketika dia balik ke Ancol, yaudah aja. Gak ada omongan apapun atau gerak-gerik mencurigakan. Eky just being Eky, and Sekar just being Sekar.

Pertemuan #5
25 Mei 2018. Gue ketemu lagi sama dia, dan sama temen-temen rekan kerja juga di acara buka puasa bersama gitu deh. Tempatnya di rumah temen kantor gue di daerah depok namanya Mba Ita. Gue janjian sama Talita jam 5 sore di depan stasiun Depok Lama. Eky udah nyampe duluan karena dia bareng temen-temen lain naik mobil. Dan, kala itu gue dianter pacar gue. Pas udah ketemu Talita, kita masih nunggu satu temen namanya mba Ida. 15 menit dia kemudian datang, dan kita langsung otw. Pacar gue cuma ngedrop gue aja, ga ikut buka disana. Sebenernya diundang sama Mba Ita, tapi entah kenapa gue yang ga mau ngajak hahaha. Alasannya? Karna pasti canggung sama Eky walaupun gue tau, gue dan Eky masih dan tetap gak ada apa-apa. Tapi, jauh sebelum hari ini, gue akhirnya cerita ke pacar gue bahwa gue baper ke Eky. Gue pernah menyimpan rasa. Alhasil, sampe hari itu, pacar gue jadi agak sebel kalo gue ketemu Eky, bahkan tadinya ngelarang gue ketemu walaupun ramean. Cemburu, istilahnya. Gimana coba kalo pacar gue juga ikut ketemu dan duduk bareng? Bisa-bisa Eky di ketusin tanpa Eky tau salahnya apa, dan gue ga mau itu terjadi. Maka dari itu, gue ga ajak dia. Dan ntah kenapa Eky juga ga bawa ceweknya. Padahal gue kepo, tapi takut sakit hati juga hahaha.
Gue turun dari motor pas udah sampe di rumah Mba Ita. Eky udah standby di depan pintu, keliatan dari luar. Eky ngeliat gue, pacar gue ngeliatin Eky.
"Itu Eky?" dia tanya
"Iya,"
"Ganteng. Tipe kamu banget tuh," katanya
Gue cuma diem.
"Masuk dulu ya, nanti jemput,"
Mba Ita keluar, terus ngomong
"Ga buka disini aja kar, cowok lo?"
"Engga mba, udah ditungguin mamanya dirumah,"
Dan semuanya berjalan seperti biasa aja. Gue udah ga terlalu baper, ngobrol seperti biasa, dan masih sangat nyambung.
Gue yg samping kiri kerudung ungu (Mba Ita), Eky sebelah kanannya
Kita pernah beberapa kali chat-an. Tapi gak sering dan bahasannya gak jauh-jauh dari kerjaan. Iya, gue tau itu modus. Udah gitu tiap chat-an, ga pernah yang panjang banget sampe berlanjut keesokan harinya karena kita sama-sama tau, ada hati yang kita jaga. Perasaan gue? Udah berangsur-angsur membaik dan udah ga baper lagi. Gue nimpalin chatnya dia karena gue perlu temen ngobrol selain sama pacar dan Eky adalah salah satu rekan kerja yang enak diajak ngobrol via chat. Makanya tiap kemudian dia ilang, gue masa bodoh dan ga sebel atau gimana. Disitu gue sadar seharusnya gue sebagai perempuan jaga jarak dan ga ngegubris dia segitunya. Gimana perasaan ceweknya Eky, dan perasaan pacar gue? Tapi balik lagi, entah kenapa gue ga bisa ngegituin Eky. Berulang kali gue berantem sama pacar karna dia ngebaca chat gue sama Eky dan keliatan kalo gue ada ketertarikan sama dia. Beda dengan cara gue bales temen-temen cowok lain yang sekenanya. Tapi gue pun males membela diri dengan ngasih berjuta alasan. Tiap gue berantem gue cuma minta maaf, atau berharap diputusin aja sekalian. Karena jujur, gue udah gerah banget disalah-salahin. Gue lebih baik putus sama pacar gue kalo dia ngerasa gue mengkhianati dia. It's okay. Dan ketika gue putus pun, gue ga akan ngedeketin Eky dengan ngerengek-rengek minta dipacarin. Nggak sama sekali. Gue ga takut diputusin, dan gue tetep ga akan mengutarakan perasaan gue ke Eky. That's it. Tapi kemudian, pacar gue terus menerus ngasih gue kesempatan dan percaya bahwa gue ga akan gimana-gimana ke Eky karna pacar gue pun tau kalo Eky masih punya cewek dan sepertinya dia profesional akan hubungannya. Hm, mau bagaimana lagi, kan?

Gue masih ga berani menarik kesimpulan bahwa dia suka sama gue karna gue takut kegeeran. Tapi, kalo dipikir lucu aja. Keliatan banget dia suka nyari-nyari topik obrolan. Ini beberapa penggalan chat-chatnya Eky, ga jelas banget kan topiknya wkwk.


Beberapa kali juga ketika gue telfon kantor Ancol dan dia yang ngangkat, suasana tiba-tiba jadi agak canggung gitu. Hehehe. Dan ketika gue telfon kantor Ancol dan yang ngangkat bukan dia, orang Ancol pasti selalu ngeledek, 'kirain nyariin Eky' gue bales dengan ketawa aja.
Pernah juga satu hari, orang HRD kantor Ancol, kak Cindy nyamperin ke ruangan gue buat ngasih undangan nikah.
"Denger-denger di Ancol ada yang ngefans ya sama Sekar?"
"Hah siapa kak?"
Dia cuma ketawa-ketawa aja, terus bilang
"Itu, Eky..."
Muka gue merah seada-adanya. Kak cindy sama Oliv ketawa puas banget.
"Apaan kak, engga kok..."
"Dasar ya kalian, cowok kamu nanti gimana loh itu,"
Gantian gue yang ketawa. Dalam hati bergumam, 'iya kak, saya juga bingung...'

to be continued
Share:

Saturday, October 21, 2017

#throwback - Trip cantik ke Bandung! Part 2

Okeee, jadi sampai mana kemarin? Oh iya sampe makan malem di pecel lele yaaa? Alright. 
Setelah kenyang, kita langsung melipir ke hotel karena sudah sangat lelah. Karena kita adalah fakir konten di instagram, dan supaya uang kita tida terbuang sia-sia, jadi untuk tidur pun harus yang tempatnya lucuk dan bisa dijadiin spot foto. Hahaha. Kemarin kita punya 2 opsi penginapan ciamik di Bandung. Yang pertama adalah Stevie G, yang kedua adalah Summerbird Bed and Brasserie. Setelah vote, akhirnya terpilihlah Summerbird untuk tempat singgah kita. Gue vote Summerbird, btw. Tapi ga menutup kemungkinan kalau suatu waktu bakal nginep di Stevie G karena setelah dilihat-lihat ya lucu ugha. Kalian bisa browsing dulu di ig atau google mengenai Summerbird ini. Jadi Summerbird ini semacam mini hotel, karena ga seperti hotel-hotel pada umumnya di Bandung, Summerbird ini lebih sedikit kamarnya dan tempatnya ga terlalu luas (cuma 3 lantai). Mereka punya restoran juga untuk mereka yang nggak mau nginep. Kalau menurut gue sih artsy parah! Lucu banget gitu. Nuansa yang mereka aplikasikan adalah yang berbau pastel dan vintage. Setiap sudut, bahkan di kamar aja, bisa dijadiin spot foto kekinian hehe. Untuk lengkapnya, sila tengok dokumetasi di bawah ini.
Lucu kaaaan!!!
Kamarnya terbilang minimalis, kalian bisa lihat, di sebelah tempat tidur, langsung ada kamar mandi disebelahnya. Idealnya kamar ini untuk 2 orang, tapi karena kita pengen sama-sama terus (baca:kere) kita pesen satu kamar aja, hahaha. Gue gatau ini kamar jenis apa, yang pesenin temen gue dari aplikasi pesan hotel gitu. Karena kalau pesan langsung, harganya lebih mahal dan bisa-bisa ga kedapetan.
Satu kamar ini isinya tempat tidur, ada juga yang 2 bed sebenernya. Lalu, tv, kamar mandi dan udah. Hahaha so simple yet stunning!
Ini restoran-lantai 2
Oh, iya! Setiap pesan kamar sudah include breakfast juga, ya. Untuk 2 orang. Yang diatas ini adalah menunya. Cukup variatif dan enak sih menurut gue. Gue nyobain English Breakfast dan temen gue nyoba Beef and Egg Wrap. Semacam kebab gitu. Free flownya ada bubur ayam dan roti bakar.
Restoran-lantai 3
restoran-lantai 1
Our bed. Pardon my 'belum mandi' face
Well, then. Tempat ini menurut gue sangat tidak cocok untuk keluarga, ya. Karena terkesan anak muda banget haha. Tapi kalau ada yang mau nginep disini bareng keluarga ya monggo. Aku sih lebih senang sama teman-teman karena kalau keluarga pasti kesempitan hehe.
Summerbird Bed and Brasserie
Jl. Ksatriaan no. 11, Arjuna, Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40172
Price: Rp.650.000,-/night (harga berubah-ubah tergantung tanggalan kalender dan weekday-weekend ya! Saranku kalian cek di aplikasi penyedia layanan booking hotel dan cari yang paling murah)  
Rate: 5/5

Setelah asik foto-foto, kita check out dan lanjut ke destinasi selanjutnya. Ada cafe yang hits juga di Bandung namanya Please Please Please. Tempatnya serba pink dan pastel, lucu sekaliiii.
Ini sebenernya icon restoran ini, tapi liat deh udah kotor gitu sayang banget:(
Gue pesen minuman jus vitamin booster yang kalo ga salah terdiri dari wortel, lemon dan jeruk. Tapi rasanya, pahiiiiiittttt!!!! Gue sampe nuangin gula sachet berkali-kali biar ga pahir but still bitter:(
Menu di please 3x ini macem-macem, tapi lebih ke menu international dan breakfast gitu. Ada granola dan kopinya lengkap juga, ada toko pastry juga di depan cafenya. Tapi buat kamu yang pengen makanan tradisional, mereka sedia lontong kari juga loh!
Please Please Please
Jalan Progo No.37, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115
Price: Vitamin Booster Rp. 38.000,- (exc. tax) 
Rate: 4/5

Destinasi terakhir, karena kita lapar, adalah Karnivor! Tempat makan steak yang cukup murmer dan asique di Bandung. Tempatnya mengusung tema hutan-hutan gitu jadi agak remang-remang. Menu yang mereka sediakan cukup banyak, mulai dari daging lokal, impor, hamburg, ada juga ayam. Olahan kentangnya juga beraneka ragam ada mashed, fried, sama wedges. Buat yang ga suka steak juga ada sop buntut, nasi goreng, sampe pizza juga mereka jual.
Gue order hamburg steak yang varian mozzarella hamburg. Dia ini bisa milih kentangnya mau diapain, sausnya apa, dan toppingnya apa. Porsinya cukup ngenyangin gue dan karena daging hamburg, jadi ga perlu ribet ngoyak daging kaya orang-orang hahaa. Enak banget pokoknya, sayang gue lupa foto in karena keasikan makan huhu
Photo courtesy: Zomato
Karniv.012
Jl. L. L. R.E. Martadinata No.127, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114
Price: Hamburg Steak 49.000,- Ice lemon tea Rp. 17.000,- (exc. tax)
Rate: 5/5
Setelah kenyang, kita lanjut beli oleh-oleh. Gue tetep setia dengan my Amanda luuuuv yg cokelat dan cheesecake. Walaupun sekarang Amanda udah dimana-mana teteup aja ngincer yang di Bandung haha. Dan temen gue ke Kartika Sari. Tadinya mau ke Makuta tapi pesimis kayaknya bakal panjang antrian. And we're going back to Jekardaaaaah~~
Terima kasih yang sudah baca! Kalau ada rekomen tempat asik di Bandung atau mau bertanya sila komen! Have a nice weekeeeend.
xx
Share: