Tuesday, March 14, 2017

Our Nightmare: Part 8 (final) "Closing Statement"

"Lepaskanlah, maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu." mengutip kata Tere Liye dari buku kumpulan quotesnya yang berjudul About Love.
Persis seperti apa yang aku lakukan Januari silam. Aku berani dan mengambil langkah untuk melepaskan. Bukan karena sudah tidak sayang, namun karena tahu bahwa semuanya tidak berjalan seperti semestinya. Dan apa lagi yang kau harapkan dari sebuah hubungan yang sudah tidak berjalan semestinya? Namun keajaiban itu datang, Rio kembali dan memintaku untuk tetap tinggal. Dan setelah berbagai macam pembuktian yang ia berikan, aku memaafkannya. Karena sejatinya, cinta itu memaafkan.
Tujuanku menulis cerita kami sederhana, hanya untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa tahu menjadi sebuah pelajaran bagi siapapun yang membaca. Aku tidak senang, tidak merasa menang hanya karena aku dan Rio kembali bersama. Bagaimanapun keadaan kami setelah kejadian itu, aku tetap akan menuangkannya disini.
Kepada teman-teman perempuan, aku bersyukur apa yang kualami tidak menimpa kalian, tidak perlu kalian tanya bagaimana rasanya jadi aku, kurasa semua tulisanku sedikit banyak sudah menggambarkan semuanya. Namun apabila kalian mengalaminya, jangan pernah takut untuk melepaskan. Karena mereka (para lelaki) belum mengikrarkan janji hitam diatas putih untuk selamanya memiliki kalian. Sebelum hal itu terjadi, kalian dapat dengan leluasa melepaskan apa yang belum tentu baik. Sungguh Tuhan maha baik telah memberikan kesempatan untuk lari sekencang-kencangnya dari lelaki yang tidak menghargai kalian. Percayalah bahwa suatu saat kalian akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih menghargai dan menyayangi kalian, atau, percayalah bahwa yang kalian lepas akan kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik dan sudah belajar dari pengalaman. Keduanya, sama sama baik bukan?
Tetaplah berfokus kepada apa yang kalian tuju, apa yang kalian cita-citakan. Karena dengan menaikkan derajat kita sendirilah, kemudian laki-laki akan terkesan oleh pribadi kita dengan sendirinya. Tidak usah terlampau mengharapkan apa yang bukan menjadi milik kita, percayalah bahwa Tuhan sudah menuliskan 'our own fairy tale' yang tidak kalah luar biasanya dari fairy tale buatan disney.

Teruntuk perempuan yang menjadi pemeran pembantu di drama kami, tenanglah, ini kali terakhir aku membicarakanmu disini. Aku melepasmu supaya kau memiliki kehidupan yang tenang, agar kau dapat memulihkan lukamu dan mengikhlaskan kami. Agar kau tidak terus menerus gusar karena aku bicarakan disini. Tidak ada yang menyuruhmu membuka blog-ku, bukan? Bagaimanapun aku dan Rio kedepannya, apakah akan terus bersama atau tidak, aku tetap berterimakasih. Karenamu, aku belajar melepaskan, memaafkan, dan menerima lagi. Karenamu, hubungan kami berdua menjadi jauh lebih dewasa dan semakin menyenangkan. Karenamu, aku belajar bahwa aku harus melepaskan dan mengikhlaskan sebelum akhirnya mendapatkan kembali kebahagiaanku.
Mendewasalah, kau tidak bisa bergantung hanya kepada omongan seseorang lelaki kepadamu. Ketahuilah bahwa semua laki-laki pada dasarnya pandai bersilat lidah, dan kita harus sangat jeli jika tidak ingin terperangkap masuk ke permainannya. Jadilah perempuan yang pintar dan pandai membaca situasi, aku tahu kau tidak lagi remaja. Pikirkanlah apapun sebelum kau mengambil tindakan. Siapkan dirimu untuk kemungkinan terburuk, selalu. Bukan untuk siapapun, tapi untukmu sendiri. Kalau dahulu kau tidak membukakan pintu dengan mudahnya untuk pacarku, kau tidak akan terluka sedalam itu kan?
Analisalah semua yang terjadi di sekitarmu, karena pada saat kau jatuh cinta, semua matamu seolah tertutup, dan kau akan menyadari bahwa semua itu salah perlahan demi perlahan. Sebagai contoh, apabila kau berhasil melegalkan hubungan dengan pacarku, sudah siapkah kau untuk menerima berbagai cemoohan dari manapun? Dari keluarga pacarku, teman-teman futsal pacarku, teman-teman pacarku lainnya? Kau boleh berbahagia karena mendapatkan lelaki yang kau cinta, kau boleh mengambil hati semua teman-teman jurusanmu, namun percayalah, bahagiamu hanya sementara, karena dunia pacarku bukan sekadar jurusannya dan kau.
Carilah laki-laki yang mencintaimu tulus, bukan karena ia sedang dilanda rasa bosan akan pacarnya, atau bukan karena ia ditinggal sibuk oleh pacarnya. Jadilah perempuan yang elegan, yang baik namun tidak terlalu baik. Karena mutiara akan tetap ditemukan meski terlindungi oleh kerasnya cangkang. Sayangilah dirimu sendiri, berdirilah diatas kakimu sendiri, tidak perlu kau mengemis-ngemis perhatian dari orang banyak, bahwa kau adalah satu-satunya yang tersakiti. Ingatlah bahwa perempuan dewasa adalah mereka yang melepaskan, yang tidak mengambil pusing apa yang bukan menjadi haknya. Yang seharusnya menjadi haknya pun, ia lepas karena ia percaya bahwa sesuatu yang lebih baik sudah menantinya.
Ups, aku sudah terlalu jauh menasihatimu. Bahkan, aku tidak yakin kau akan setuju dengan semua tulisanku diatas. Yasudah, terserah, setidaknya aku sudah memberi wejangan. Aku menulis karena aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang selingkuhan dan bagaimana hinanya menjadi selingkuhan, dan baru kusadari jauh setelah kejadian itu. Dan aku mengganggap bahwa diriku terlalu berharga untuk hanya sekadar dijadikan selingkuhan. So do you. Itupun kalau kau masih menganggap dirimu berharga dan bernilai tinggi, ya.
Akhir kata, hasta la vista baby

Teruntuk lelaki yang memperjuangkanku, yang berusaha menjadi dewasa jauh diatas usia sebenarnya, yang entah-mengapa masih belum menyerah akan aku, dan aku berharap tidak akan pernah menyerah.
Kamu brengsek. Kuakui kamu sangat brengsek mengingat kamu adalah satu-satunya laki-laki yang aku beri kepercayaan penuh untuk mempelajari aku dan kehidupanku. Kamu sangat brengsek apabila dilihat dari track record-mu yang tidak pernah menyakiti dan menduakan perempuan. Aku sudah terlanjur sangat mempercayaimu dan kemudian kau melakukan hal yang sama sekali tidak kuduga, bukan hanya aku, bahkan orang-orang disekitarku berpikir demikian. Tetapi...
Ketahuilah, aku tetap melihatmu sebagai sosok yang sempurna bahkan setelah mengetahui berbagai kekuranganmu. Alasannya hanya satu, karena kau juga melihatku demikian. Anggaplah yang lalu kemudian menjadi pelajaran bagi kita, untuk tetap bertahan pada jalur kita, untuk tidak menyerah terhadap keadaan. Kurang lebih 15 bulan bukanlah waktu yang singkat bagi kita berdua mengingat jatuh bangun yang sudah kita lewati. Semoga kedepannya tidak ada lagi hal-hal yang mengganggu dan kita akan semakin membaikkan satu sama lain. Aku tetap menyayangimu, whether you are a lesson or a blessing. Banyak yang menanti kita didepan sana, yang tentunya jauh lebih seru untuk dilalui berdua, and i cant wait for that, insyaAllah we can pass this together, aamiin.
Terimakasih untuk sudah tegar, sudah kuat, dan menjadi dirimu sendiri. Terimakasih untuk segala pengorbananmu demi membuatku kembali yakin. Aku tahu, laki-laki diluar sana mungkin akan dengan mudahnya menyerah ketika berhadapan denganku yang sekeras batu. Terimakasih untuk membuatku kembali percaya akan cinta, percaya bahwa seseorang bisa berubah, dan mempercayai sebuah kalimat "if it's meant to be, it'll be".

Dari cerita ini, sesungguhnya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Bukan, malah semua pihak cenderung salah. Tetapi, yang kemudian dapat dijadikan pelajaran adalah bagaimana cinta itu tidak bisa dipaksakan, bagaimana cinta itu akan kembali kepada rumahnya. Mengutip kata Ika Natassa dari novelnya yang berjudul Critical Eleven, bahwa 'in relationship, we realize thing too much late', tetapi selama kepercayaan itu masih bisa dikembalikan dan janji bukan sekadar janji melainkan dapat dibuktikan melalui perlakuan, cinta akan dengan mudahnya memberi kesempatan lagi.
The point is, be smart enough. Be tough enough. Be brave enough. You'll never regret what you choose, just let God write your own destiny. He knows best, insyaAllah.
Sudah, sekarang waktunya kita semua bahagia, dengan apa yang sudah digariskan Tuhan untuk kita menit ini, esok, bahkan setahun kedepan. Peace out!

the end.
Oh! But probably i'll continue write about present day, so,
(still) to be continued (with the another story)
Share:

Our Nightmare: Part 7 "Now Let's Talk About That Girl"

(Masih) Awal Januari 2017
Perlahan, aku dan Rio berjalan ke arah yang semakin baik. Dan aku bersyukur akan itu. Walaupun, semester baru belum dimulai yang tandanya aku belum bisa membuktikan ucapannya. Ya, kita lihat nanti saja. Rutinitasku agak sedikit berbeda dari Rio, malah cenderung lebih sibuk darinya. Aku tetap bekerja, sembari mempersiapkan materi sidang. Skripsiku? Tentu saja sudah selesai karena sudah siap diujikan. Hey! Aku sendiri tidak percaya bahwa skripsiku berhasil lolos dan siap diujikan. Terakhir, aku sudah se-pasrah itu karena-kalian-tahu-sendiri-banyak-yang-menimpaku-akhir-akhir-ini. Niatku untuk lulus lebih awal sudah tidak lagi kugubris, aku hanya ingin hidup tenang dan merdeka. Namun Tuhan masih menyayangiku dan memberiku kekuatan ekstra. Klub futsal di kampus belum memulai latihan mereka, oleh sebab itu Rio benar-benar menganggur. Rutinitasnya setiap hari hanya tidur, main football manager, menjemputku, bilang kangen, itu-itu saja. Sebenarnya, ia bisa saja menyibukkan diri dengan turut serta mengurus kegiatan di jurusannya. Apalah itu namanya. Ya walaupun aku sudah pasti tidak akan suka. Boleh kan aku bersikap sedikit posesif?
“Gamau, aku udah gamau ikut ikutan jurusan,”
"Hidup aku sekarang dikampus ya cuman belajar, memenuhi kewajiban aku, dan lapangan ketika aku gabisa lari ke kamu,"
Oh, my man is back, eventually.
Mungkin itu adalah salah satu langkahnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Yah, aku sih bagaimana juga bebas.
Aku sudah tidak tahu bagaimana kabar perempuan itu, mungkin sudah pingsan, lari ke ketiak ibunya atau mungkin menenggelamkan diri. Haha sebenarnya aku sangat tidak peduli. Tetapi, suatu ketika ada yang mengusikku.
 “Kar, coba lo liat twitter deh,”
“Ada apa?”
“Buka username @********,”
Itu nama perempuan itu. Temanku yang sangat intel, yang belum lama ini kuceritakan perihal ada apa denganku dan Rio, secara sengaja memberikanku umpan.
“Liat aja sendiri,”
Aku membuka twitter, mencari username itu, dan puluhan ribu tweets sudah memasrahkan dirinya untuk dibaca khalayak seperti aku. Aku coba scroll, scroll, scroll. Reaksiku pertama kali adalah…
Tertawa. Sungguh. Aku tertawa terbahak-bahak.
Perempuan itu, luar biasa niat sekali ya, setiap hari ia membicarakan pacarku. Iya, pacarku. Like every single day, kadang-kadang juga ia membicarakanku. Omg, seriously?!! Setiap hari ia menarik perhatian semua orang dengan tweets galaunya, atau retweet-an galaunya, sampai membuat challenge segala. She really loves my man, isn’t she? Gokilll.
Ya, aku juga tidak memungkiri bahwa aku juga norak karena bercerita disini, di jurnal pribadiku, setelah sekian lama tidak bercerita. Tapi, aku tahu bahwa yang melihat blog-ku ini tidak banyak, haha. Dan tujuanku bukan untuk mengemis perhatian, bukan, aku tahu kemampuan menulisku masih jauh dibawah rata-rata, tapi yang penting isinya sampai. Aku menulis untuk kukenang sendiri, lebih dari itu, syukur-syukur kalau sasarannya sampai membaca, haha. Masalah tulisanku ini disukai atau tidak, masa bodoh, memangnya ini Wattpad?
Tapi ini menarik, benar-benar menarik. Melihatnya terjatuh seakan menjadi kesenangan tersendiri untukku. Whoops, sorry not sorry, tapi sudah seharusnya aku bersikap egois, ya kan? Aku sama sekali tidak mengasihaninya, demi Tuhan. Baru kali ini aku merasa aku jahat, bahwa aku dapat tertawa diatas penderitaan orang lain. Terserah mau karma atau yang bagaimana nanti menimpaku, yang jelas saat ini aku senang. Somehow, menjadi hiburan tersendiri untukku.
Namun, makin hari, perempuan itu makin liar dan makin arogan. Ia membeberkan satu demi satu sudah melakukan apa saja dengan pacarku. Seakan belum puas menarik perhatian seluruh rakyat twitter. She said they’ve been hugging, kissing, sudah dibonceng, diantar ke stasiun Gambir, hujan-hujanan, makan pizza, makan bubur, cari daun pisang, you name it. Dan sejujurnya, aku sangat tidak peduli. Sangat sangat tidak peduli. Justru pemikiranku datang dari sisi yang berseberangan.
Apa artinya pacarku untuk dia sih, sebenarnya? Sampai dia rela menjatuhkan harga diri sejatuh-jatuhnya didalam tweet-tweet bodohnya? Memberi tahu pada dunia bahwa ia adalah manusia paling rapuh, perempuan paling lemah di dunia hanya karena ditinggal oleh seorang laki-laki yang not-even-asking-will-you-be-my-girlfriend to her? Bagaimana cara kerja otaknya ketika ia mengizinkan seorang lelaki untuk memeluknya, menciumnya, yang bahkan lelaki itu tidak sanggup memproklamirkan bahwa ia milik lelaki itu. How can she? How can? Aku sih tidak akan mau. Walaupun dia adalah Andrew Garfield, atau Genrifiadi Pamungkas sekalipun. Aku benar-benar tidak habis pikir. Mungkin pikirnya, teman-temannya akan mengasihaninya dan membelanya. Well, friends of mine think that, perempuan itu benar-benar sangat rendah. Jatuh cinta benar-benar membuatnya kehilangan logika. Ia belum dewasa.
Tidak perlu kuceritakan panjang-panjang, nanti kupingnya panas. Aku sih, bilang ke Rio bahwa masih ada seseorang yang sebegitu mengharapkannya, sebegitu cinta matinya, dibanding aku yang seakan tidak peduli ke Rio dengan menghabiskan berjam-jam dikantor demi masa depan. Hahaha. Kemudian dia bilang,
“Kamu ngapain sih liat yang engga-engga, biarinin aja,”

Well, ia tampak sebal. Yasudah, masa bodoh. Saat ini tugasku hanya berbahagia, dan membahagiakan. Masalah ada yang tidak suka, itu urusan mereka. Toh, Rio sepertinya tidak akan menggubrisnya.
Oh, iya. Ini beberapa potongan chatku dengan teman-teman pasca aku bercerita ke mereka perihal gelagat lucu si perempuan itu. Dan ini kata mereka. Kalau sebal ya terserah, namanya teman pasti mendukung temannya, bukan? Peace out.
 
 

(almost) end.
Share:

Monday, March 13, 2017

Our Nightmare: Part 6 "His Choice"

Rabu, 4 Januari 2017.
Aku mengetik sms kepada seseorang, membalas pesannya, lebih tepatnya.
"Aku dikansas," kataku
"Loh iya? Kamu ga kerja?"
"Setengah hari, ada yang harus aku urus,"
"Aku boleh ketemu kamu nggak?"
Aku berpikir sebentar. Dan entah mengapa sulit sekali membalas "Nggak"
Akhirnya kubalas "Boleh,"
Tidak lama kemudian, seseorang datang menghampiriku yang sedang asyik mengetik di kantin fakultas, meneruskan skripsiku. Orang itu senyum-senyum tak karuan melihatku. Aku memilih memasang wajah serius. Bukan karena ingin serius, tetapi memang karena aku sedang serius mengerjakan skripsiku.
"Akhirnya bisa juga ditemuin," ungkapnya membuka pembicaraan. Aku hanya tersenyum tipis, kemudian menutup laptopku.
"Loh udah beres? Mau kemana?" katanya, lagi.
"Terserah. Aku sih udah bosen disini,"
"Makan?" tanyanya. Aku hanya menaikkan bahu.
"Hm, okee," katanya lagi.
"Kamu tentuin tempat," kataku.
Kami berjalan-lebih-tepatnya-naik-motor menyusuri jalan Margonda. Pilihannya jatuh kepada salah satu rumah makan di jalan raya Margonda. Aku menurut saja.
Sesampainya dirumah makan tersebut, kami langsung masuk. Ia mengenggam tanganku, tapi aku menolaknya.
"Kaya orang pacaran aja," kataku.

Pukul 20.00. Ia mengantarku pulang.
"Kamu ngapain masih ngejar aku? Bukannya katanya kamu udah ga bisa sama aku?" tanyaku
"Emang selama aku belum bisa menyamai kamu, aku ga bisa sama kamu, Sekar. Bahkan sekarang juga,"
"Tapi dengan cara ini, cara satu-satunya agar aku bisa ngejangkau kamu. Aku bisa tau kalo kamu ga kemana-mana,"
Aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Toh aku tidak mau mengerti. Karena sebenarnya, aku belum mau kembali kepadanya.
Tapi jujur, ketika bersamanya, aku seakan lupa akan apa yang terjadi diantara kami. Tidak hanya itu, aku lupa akan semua masalahku. Ia seperti menjadi obat tersendiri bagiku. Obat bahagia. Terbukti, ketika pulang, sikapku tidak sedingin ketika kami pertama kali bertemu tadi sore.
"Jumat aku jemput ya, jangan nolak,"
Aku hanya menaikkan alis. Sudah berani dia, rupanya.

Jumat, 6 Januari 2017. Pukul 17.00
Benar saja, dia sudah bertengger didepan kantorku.
"Mbak Sekar, ya" katanya, menirukan gaya bicara ojek online. Aku cuma tersenyum.
Bersamanya, untuk pertama kali, kami membelah kemacetan ibukota melalui jalan HR. Rasuna Said-Mampang-Pejaten-Cilandak. Ajaibnya, kemacetan tidak terasa membosankan karena obat bahagiaku bekerja. 
"Lebih enak kan daripada kamu harus sempit-sempitan kayak teri di kereta laknat itu,"
"Heh, gitu-gitu aku bakal sampe lebih cepet,"
"Pegel kali berdiri,"
"Mendingan berdiri tapi gerak daripada duduk tapi stuck," begitulah kira-kira perdebatan kami selama diperjalanan. Bukan perdebatan serius, tentunya.
"Laper ga?" tanyanya
"Lumayan,"
"Yuk makan,"
Akhirnya kami berhenti di Mall Cilandak dan makan di salah satu restoran fast food disana.
Kami makan dengan damai, sampai akhirnya, Handphone Rio menyala karena ada chat. Dari perempuan haram jadah itu. Isinya: lagi apa? Jeder. Mau mati ya kalian ini?
"Ada yang kangen tuh," kataku karena yang di chat belum menyadari ada chat di handphonenya. Aku bersikap sesantai mungkin karena memang sudah bukan urusanku lagi, tapi, hari ini dia menjemputku. Aneh kan? Aku lebih memilih diam tanpa berkomentar.

"Sekar, kamu besok-besok udah ga mau ketemu aku lagi ya?"
Aku tersenyum, lalu mengangguk. Cukup bagiku melihat apa yang terjadi hari ini, bahwa lagi-lagi, ia belum berubah, bahkan ketika kupikir ia sedang berusaha mendapatkanku kembali. 
"Jangan gitu dong Sekar,"
"Wah, gila ya. Aku ga bisa dikasih yang abu-abu macem gini,"
"Aku udah mau nyudahin ini, tapi belum ada waktu yang tepat aja,"
"Terus kapan yang tepat tuh? Capek ya aku denger omongan kamu, semuanya cuma ada di awang-awang. Nyesel banget aku kemaren ketemu kamu, dan hari ini juga,"
"Aku mau ngapain aja dan terserah kamu mau ngapain, tapi jangan pergi,"
"Liat dong hp kamu, boleh?"
"Boleh,"
Kemudian aku melihat handphonenya. Lagi-lagi, sejak aku memutuskan hubungan secara sepihak itu, sampai hari ini, ia masih berkomunikasi dengan si kerudung dusta itu. Tetapi, nampak disini Rio malas-malasan menanggapi chatnya. Memang dasar perempuan itu, belum kapok. Aku mengetik di tab chatnya, membalas chat dari perempuan itu.
"Hai ****:) 
kangen ya sama Rio?
Sebel ya hari ini ga diajak jalan? 
Kalo jalan sekarang mau ga?"
Perempuan itu membalas dengan cuek, nampaknya ia mengetahui bahwa aku yang sedang memegang kendali. Kubalas lagi
"Hm sok jutek
Enak tuh foto nyender-nyender
ntaplah,"
Aku menyindir karena tidak sengaja melihat foto mereka berdua ketika pameran dan sebalnya, mereka sangat dekat. Selain itu, si kerdus itu juga pernah mengirim foto selfienya tanpa kerudung. Ewhhhhh dimana kodratmu wahai mbak.
Setelah muak, aku mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya.
"Aku mau ngomong sama dia dong," kataku
"Ga bakal diangkat, Sekar, takut dia sama kamu,"
"Coba dulu,"
Rio menurut. Ia menelepon perempuan itu dan benar, tidak diangkat. Haha cupu.
"Tuhkan bener,"
"Yaudah aku mau ngomong bertiga,"
Kali ini, Rio yang menolak.
"Buat apa? Aku udah gamau ada urusan lagi sama dia,"
"Ya buat ngelurusin semuanya lah, aku masih digentayangi rasa takut tau, kaya hari ini aja,"
"Yaudah, aku coba ngomong ya sama dia,"
"Aku mau hari minggu," kataku.
Rio kemudian memulai pembicaraan dengan perempuan itu dan mengetik sendiri: bahwa ia tidak mau lagi berbuat jahat, di tab chatnya dengan perempuan itu. Aku tidak tahu apa ia kemudian membujuk perempuan itu untuk dapat bicara bertiga denganku juga atau tidak.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan kemudian, karena aku sudah pulang.

Minggu, 8 Januari 2017.
"Mana? Berani ga dia?"
"Dia maunya kemaren ngomongnya di Museum. Aku kan ga Museum, males, banyak orang, dan orang-orang itu ngebelain dia semua,"
"Mana coba liat handphone kamu,"
Rio memberikan handphonenya. Pasca ia mengirim pesan itu kepada si perempuan itu, kemudiannya mereka berdebat, isinya sih, perempuan itu marah-marah karena Rio memilih untuk meninggalkannya.
"Kalau Sekar mau, suruh dia chat aku langsung, baik-baik" kata perempuan itu, didalam chatnya.
LAH, maaf beribu maaf yaa, tapi yang seharusnya minta maaf duluan siapa? Yang membuatku tidak bisa menanggapinya baik-baik siapa? Lagipula jumat lalu, ia tidak mengangkat telepon kami. Aneh luar biasa perempuan itu.
"Sekar harus tau, waktu itu kamu ngomong ke aku kalo kamu udah ga bisa sama dia, dan kamu cuma kasian sama dia," katanya lagi, masih didalam chat perdebatan itu.
IYAAAA MBAAAK SAYA UDAH TAHU. Bahkan saya udah sadar diri, bahkan saya udah mundur, tapi laki-laki ini masih aja narik-narik saya. Jadi saya harus bagaimana to, mbak tegal cantik?
Akhirnya chat itu ditutup dengan,
"Aku mau ngomong di Museum." ajak perempuan itu, yang ditolak oleh Rio
"Kan udah ngomong semalem."
Telak. Mereka tidak melanjutkan chat.

Kemudiannya, sedikit demi sedikit kami kembali ke jalur kami. Jalur kami yang seharusnya. Walaupun masih sangat sulit bagiku untuk tidak merasa dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Tetapi, Rio terus-menerus meyakinkanku.
"Aku yakin banget, selepas kemarin, aku bakal dijauhin anak-anak seangkatan. Aku gatau bakal kayak gimana nanti aku dikelas. Entah dikucilin, entah didiemin, tapi ini yang aku pilih, Sekar. Aku bisa aja ninggalin kamu, gampang banget malah karena kamu udah ga pernah dikampus, tapi aku masih memilih kamu. Aku terima semua resiko ini, buat apa? Buat kamu, buat ga ngekhianatin kamu lagi. Aku ga peduli mereka mau liat aku kaya gimana, mau nilai aku jahat terserah, yang penting buat aku, kamu aman, kuliah aku aman, aku bisa lulus dan menyamai kamu. Jangan takut lagi ya, Sekar."
Aku terenyuh tiap mendengarnya bicara seperti itu. It really really make sense dan sedikit banyak ia membuktikan bahwa ia benar-benar ingin aku kembali percaya.

to be continued.

Epilog
"Ih! Kan kita udah putus tau,"
"Kata siapa?"
"Kata aku,"
"Kamu doang, aku engga. Orang kita ga pernah putus wlekk."

"Aku kan bukan pacar kamu,"
"Iya bukan. Kamu calon istri aku."
Share:

Thursday, March 9, 2017

Our Nightmare: Part 5 "Wait...Did I Just Say The End? Now I'm Not Sure"

2 Januari 2017
"Red Room dimana ya, Pak?" tanyaku kepada bapak-bapak security di lantai 10.
"Ini, mbak lurus aja, pintu warna merah belok kiri."
"Makasih, pak,"
Aku melangkahkan kakiku ragu ragu. Takut. Ya, aku takut akan apa yang sebentar lagi kuhadapi. Masalahnya bukan apa-apa, masalahnya adalah, aku seorang diri. Aku cuma mahasiswa yang sebentar lagi lulus, tidak memiliki pengalaman yang cukup, dan saat ini akan menjalani babak baru hidupku? Apalagi disampingku tidak ada teman.
Tenang, kar, tenang. Ini tahun baru, hari baru. Harus semangat!
Ketika masuk ke Red Room yang kubilang tadi, aku terperangah. Red Room bukan ruangan biasa, melainkan semacam ruangan yang disulap menjadi tempat training yang luas. Dan disana bukan hanya ada aku, tetapi sekitar 200 manusia seusiaku, dengan tujuan yang sama, magang di perusahaan ini. Aku melihat sekitar, tidak ada yang kukenal. Kemudian aku melangkah ke salah satu meja terdekat.
"Ini kosong ngga?" tanyaku kepada seorang perempuan.
"Kosong kok," jawabnya
Lalu aku duduk disampingnya.
"Namanya siapa?" tanyaku seraya mengulurkan tangan, mengajak kenalan.
"Kharina, lo?"
"Sekar,"
"Magang juga?"
"Iya. Lo dari univ mana?"
"UnPar, lo?"
"Gue dari UI hehe."
Didepan kami berdua ada dua orang, satu laki-laki dan perempuan. Aku berkenalan dengan mereka juga. Ajaibnya, mereka dari universitas yang sama denganku, hanya mereka junior, satu angkatan dengan Rio, dan mengambil jurusan D3 perpajakan. Tidak lama setelahnya, ada yang menduduki kursi sebelahku, namanya Alicia, ia lulusan salah satu universitas di Australia, kembali ke tanah air dan mencari kerja di Jakarta.
"Kok rame banget ya ini?" kataku. Masa bodoh dibilang bodoh, aku memang bingung mengapa anak magang sebanyak ini.
"Iya. PwC terima banyak anak magang, ada yang ditempatin di assurance, advisory, tax, macem-macem divisinya. Lo apa?" Kharina menjelaskan panjang lebar.
"OOOOh. Gue records management sih hehe, masuknya ke IFS,"
Kharina hanya manggut-manggut.
"Hari ini kita cuma training aja, kaya welcoming partner gitu, besok baru ke divisi masing-masing," tambah Alicia.
Pantas sebanyak ini orangnya, kupikir mereka semua satu divisi denganku.
Beberapa menit sebelum acara dimulai, aku melihat dua sosok yang wajahnya familiar. Ketika kuperhatikan lagi, ah, mereka seniorku di jurusan! Bergegas kuhampiri mereka, senang.
"Lah lo disini?" kata salah seorang dari mereka. Aku hanya meringis.
Mereka Eja dan kak Nita, usianya setahun lebih tua dariku.
"Akhirnya ketemu temen divisi juga!" kataku "Bertiga aja nih kita?" sambungku
"Ada Fahmi sama Fadiah," kata Eja "tapi mereka ga ikut training soalnya apply-nya belakangan,"
Aku mengangguk-angguk, tidak lama kemudian kembali ke mejaku.

Hampir lupa! Pagi-pagi sekali, ada yang sudah menyapaku via sms. Sepertinya orang ini belum kapok mengingat banyak pesannya yang tak ku gubris semalam.
Lagi-lagi, tidak kubalas. Kupikir, 'ah nanti juga udah ga sms-sms lagi'. Ternyata aku salah besar.
Ada yang belum menyerah rupanya. Tetapi belum tergerak hatiku untuk membalas pesannya. Ada yang lebih penting dari drama ini hari ini. Dan aku mencoba berfokus untuk itu.

Training hari ini sangat menyenangkan. Aku kenal dengan beberapa orang baru yang lumayan seru, hehe. Sungguh awal yang sangat baik.
Sesampainya dirumah, aku membuka handphone-ku dan mengaktifkan wifinya. Ada notifikasi email, messenger, dan direct messages di Instagram.
Aku tertarik membuka messenger terlebih dahulu. Ada beberapa pesan dari teman SMA-ku, Tibo (namanya Tiwi guys tapi karena dia orang Bojong jadi kami panggil Tibo). 
Sejak pagi memang aku berkomunikasi dengannya melalui messenger, awalnya Tibo mengucapkan selamat tahun baru, namun berujung kepada Rio yang secara tiba-tiba menghubunginya dan mencariku.
Aku sedikit heran, merasa tidak mampu menjangkauku, kemudian ia menjangkau teman-temanku. Hmmm lumayan juga usahanya. Namun aku tetap belum mau menggubrisnya. Kemudian aku membuka e-mail.
Isinya tentang Rio yang mengirim direct messages ke twitterku, karena ia tau aku tidak akan membalas smsnya. Aduh apalagi selanjutnya?
Aku membuka direct messages di instagram. Dan sama. Rio masih berusaha menarik perhatianku.
Karena sudah terlanjur terbuka tab chatnya, akhirnya kubalas. Hitungan detik, ia membalasnya juga.
Kemudian aku tertidur dan tidak kubalas lagi. Aku tertidur dengan sejuta pertanyaan dikepala. Sebenarnya apa maunya orang ini? Dulu, ketika aku berjuang seorang diri mempertahankan hubungan, ia sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya, malah lari dengan orang lain. Sekarang, ketika aku sudah muak dengan omong kosongnya dan bersikeras untuk mengakhiri hubungan, ia justru kebakaran jenggot, mencari-cariku bagai kesetanan. Apa maunya? Apa semua laki-laki didunia sama?

3 Januari 2017
Aku bekerja seperti biasa. Walaupun belum beradaptasi sepenuhnya, aku senang akan pekerjaanku. Lingkungannya juga sangat baik. 
Hari ini, ada chat dari ika. Ia bercerita bahwa Rio juga menghubunginya.
Setelah berbicara dengan Ika, aku berpikir. Sekarang aku harus bagaimana? Sungguh tidak mudah mengembalikan kepercayaan ku yang sudah hancur berkeping-keping. Namun aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku masih menyayanginya. Ya kalian bayangkan saja sendiri, 14 bulan bersama dan baru 2 hari tidak komunikasi, apa rasa itu hilang begitu saja? Tentu tidak. Aku mengambil langkah untuk mundur pun karena aku tau, aku tidak lagi diperlukan. Masalah perasaan, aku masih sangat menyayanginya, kalau boleh jujur. Tapi aku tidak mau jadi orang bodoh terus-menerus. Karena perasaan harus sejalan dengan logika.
Kemudian aku teringat direct messages yang belum kubalas karena tertidur. Akhirnya, kubalas chatnya.


Intinya, Rio bersikeras untuk mengajakku bertemu, entah untuk apa. Tapi sudah kubilang, aku sangat lemah jika berhadapan dengannya, dengan tidak bertemu saja rasanya sulit sekali untuk tidak menghubunginya. Apalagi bertemu? Bisa-bisa aku dengan mudah menerima maafnya. Biarkan ini menjadi pelajaran kecil untuknya. Biarkan ia mengetahui bahwa langkahku untuk mundur bukan main-main, bahwa perasaanku tidak bisa ia jadikan tempat hanya dikala ia butuh. Sudah kubilang, aku egois, apabila ia mau denganku, ya sudah semestinya memang hanya ada aku, tanpa orang ketiga. Namun, perkataannya belum cukup untuk meyakinkanku bahwa ia akan berubah, aku perlu pembuktian, dan sebagai laki-laki, sudah sewajarnya ia membuktikan ucapannya. Bahkan, aku tidak tau selama ia mencoba mendapatkanku lagi, apa dibelakangnya masih ada seseorang? Entahlah. Waktuku terlalu berharga untuk sekadar mencari tau apa yang belum pasti terjadi.

to be continued.
Share: