Thursday, March 9, 2017

Our Nightmare: Part 5 "Wait...Did I Just Say The End? Now I'm Not Sure"

2 Januari 2017
"Red Room dimana ya, Pak?" tanyaku kepada bapak-bapak security di lantai 10.
"Ini, mbak lurus aja, pintu warna merah belok kiri."
"Makasih, pak,"
Aku melangkahkan kakiku ragu ragu. Takut. Ya, aku takut akan apa yang sebentar lagi kuhadapi. Masalahnya bukan apa-apa, masalahnya adalah, aku seorang diri. Aku cuma mahasiswa yang sebentar lagi lulus, tidak memiliki pengalaman yang cukup, dan saat ini akan menjalani babak baru hidupku? Apalagi disampingku tidak ada teman.
Tenang, kar, tenang. Ini tahun baru, hari baru. Harus semangat!
Ketika masuk ke Red Room yang kubilang tadi, aku terperangah. Red Room bukan ruangan biasa, melainkan semacam ruangan yang disulap menjadi tempat training yang luas. Dan disana bukan hanya ada aku, tetapi sekitar 200 manusia seusiaku, dengan tujuan yang sama, magang di perusahaan ini. Aku melihat sekitar, tidak ada yang kukenal. Kemudian aku melangkah ke salah satu meja terdekat.
"Ini kosong ngga?" tanyaku kepada seorang perempuan.
"Kosong kok," jawabnya
Lalu aku duduk disampingnya.
"Namanya siapa?" tanyaku seraya mengulurkan tangan, mengajak kenalan.
"Kharina, lo?"
"Sekar,"
"Magang juga?"
"Iya. Lo dari univ mana?"
"UnPar, lo?"
"Gue dari UI hehe."
Didepan kami berdua ada dua orang, satu laki-laki dan perempuan. Aku berkenalan dengan mereka juga. Ajaibnya, mereka dari universitas yang sama denganku, hanya mereka junior, satu angkatan dengan Rio, dan mengambil jurusan D3 perpajakan. Tidak lama setelahnya, ada yang menduduki kursi sebelahku, namanya Alicia, ia lulusan salah satu universitas di Australia, kembali ke tanah air dan mencari kerja di Jakarta.
"Kok rame banget ya ini?" kataku. Masa bodoh dibilang bodoh, aku memang bingung mengapa anak magang sebanyak ini.
"Iya. PwC terima banyak anak magang, ada yang ditempatin di assurance, advisory, tax, macem-macem divisinya. Lo apa?" Kharina menjelaskan panjang lebar.
"OOOOh. Gue records management sih hehe, masuknya ke IFS,"
Kharina hanya manggut-manggut.
"Hari ini kita cuma training aja, kaya welcoming partner gitu, besok baru ke divisi masing-masing," tambah Alicia.
Pantas sebanyak ini orangnya, kupikir mereka semua satu divisi denganku.
Beberapa menit sebelum acara dimulai, aku melihat dua sosok yang wajahnya familiar. Ketika kuperhatikan lagi, ah, mereka seniorku di jurusan! Bergegas kuhampiri mereka, senang.
"Lah lo disini?" kata salah seorang dari mereka. Aku hanya meringis.
Mereka Eja dan kak Nita, usianya setahun lebih tua dariku.
"Akhirnya ketemu temen divisi juga!" kataku "Bertiga aja nih kita?" sambungku
"Ada Fahmi sama Fadiah," kata Eja "tapi mereka ga ikut training soalnya apply-nya belakangan,"
Aku mengangguk-angguk, tidak lama kemudian kembali ke mejaku.

Hampir lupa! Pagi-pagi sekali, ada yang sudah menyapaku via sms. Sepertinya orang ini belum kapok mengingat banyak pesannya yang tak ku gubris semalam.
Lagi-lagi, tidak kubalas. Kupikir, 'ah nanti juga udah ga sms-sms lagi'. Ternyata aku salah besar.
Ada yang belum menyerah rupanya. Tetapi belum tergerak hatiku untuk membalas pesannya. Ada yang lebih penting dari drama ini hari ini. Dan aku mencoba berfokus untuk itu.

Training hari ini sangat menyenangkan. Aku kenal dengan beberapa orang baru yang lumayan seru, hehe. Sungguh awal yang sangat baik.
Sesampainya dirumah, aku membuka handphone-ku dan mengaktifkan wifinya. Ada notifikasi email, messenger, dan direct messages di Instagram.
Aku tertarik membuka messenger terlebih dahulu. Ada beberapa pesan dari teman SMA-ku, Tibo (namanya Tiwi guys tapi karena dia orang Bojong jadi kami panggil Tibo). 
Sejak pagi memang aku berkomunikasi dengannya melalui messenger, awalnya Tibo mengucapkan selamat tahun baru, namun berujung kepada Rio yang secara tiba-tiba menghubunginya dan mencariku.
Aku sedikit heran, merasa tidak mampu menjangkauku, kemudian ia menjangkau teman-temanku. Hmmm lumayan juga usahanya. Namun aku tetap belum mau menggubrisnya. Kemudian aku membuka e-mail.
Isinya tentang Rio yang mengirim direct messages ke twitterku, karena ia tau aku tidak akan membalas smsnya. Aduh apalagi selanjutnya?
Aku membuka direct messages di instagram. Dan sama. Rio masih berusaha menarik perhatianku.
Karena sudah terlanjur terbuka tab chatnya, akhirnya kubalas. Hitungan detik, ia membalasnya juga.
Kemudian aku tertidur dan tidak kubalas lagi. Aku tertidur dengan sejuta pertanyaan dikepala. Sebenarnya apa maunya orang ini? Dulu, ketika aku berjuang seorang diri mempertahankan hubungan, ia sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya, malah lari dengan orang lain. Sekarang, ketika aku sudah muak dengan omong kosongnya dan bersikeras untuk mengakhiri hubungan, ia justru kebakaran jenggot, mencari-cariku bagai kesetanan. Apa maunya? Apa semua laki-laki didunia sama?

3 Januari 2017
Aku bekerja seperti biasa. Walaupun belum beradaptasi sepenuhnya, aku senang akan pekerjaanku. Lingkungannya juga sangat baik. 
Hari ini, ada chat dari ika. Ia bercerita bahwa Rio juga menghubunginya.
Setelah berbicara dengan Ika, aku berpikir. Sekarang aku harus bagaimana? Sungguh tidak mudah mengembalikan kepercayaan ku yang sudah hancur berkeping-keping. Namun aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku masih menyayanginya. Ya kalian bayangkan saja sendiri, 14 bulan bersama dan baru 2 hari tidak komunikasi, apa rasa itu hilang begitu saja? Tentu tidak. Aku mengambil langkah untuk mundur pun karena aku tau, aku tidak lagi diperlukan. Masalah perasaan, aku masih sangat menyayanginya, kalau boleh jujur. Tapi aku tidak mau jadi orang bodoh terus-menerus. Karena perasaan harus sejalan dengan logika.
Kemudian aku teringat direct messages yang belum kubalas karena tertidur. Akhirnya, kubalas chatnya.


Intinya, Rio bersikeras untuk mengajakku bertemu, entah untuk apa. Tapi sudah kubilang, aku sangat lemah jika berhadapan dengannya, dengan tidak bertemu saja rasanya sulit sekali untuk tidak menghubunginya. Apalagi bertemu? Bisa-bisa aku dengan mudah menerima maafnya. Biarkan ini menjadi pelajaran kecil untuknya. Biarkan ia mengetahui bahwa langkahku untuk mundur bukan main-main, bahwa perasaanku tidak bisa ia jadikan tempat hanya dikala ia butuh. Sudah kubilang, aku egois, apabila ia mau denganku, ya sudah semestinya memang hanya ada aku, tanpa orang ketiga. Namun, perkataannya belum cukup untuk meyakinkanku bahwa ia akan berubah, aku perlu pembuktian, dan sebagai laki-laki, sudah sewajarnya ia membuktikan ucapannya. Bahkan, aku tidak tau selama ia mencoba mendapatkanku lagi, apa dibelakangnya masih ada seseorang? Entahlah. Waktuku terlalu berharga untuk sekadar mencari tau apa yang belum pasti terjadi.

to be continued.
Share:

0 comments:

Post a Comment